follow, live, choose

my dreams, my life, my future

Filosofi Etika (Sedikit Berteori)

ImageHello world! Sedikit serius, kali ini tulisan saya akan banyak membahas tetang teori-teori yang dikembangkan oleh para ilmuwan yang mendunia sejak abad awal hingga pertengahan masehi terkait dengan etika, khususnya terkait dengan dunia yang saya pelajari selama empat tahun lebih terakhir, yaitu akuntansi. Ilmuwan-ilmuwan yang akan saya sebutkan nanti banyak berkontribusi pada literatur tentang etika hingga saat ini. Kontribusi ditunjukkan dalam pemahaman komprehensif mengenai akar filosofi etika itu sendiri, bagaimana membuat keputusan menggunakan landasan filosofi etika, dan berusaha menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana seseorang yang bergelut di dalam dunia akuntansi khususnya akuntan, harus beretika.

Beberapa teori mengenai etika yang dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan tersebut antara lain:

  1. Theory of Justice oleh John Rawls (1971), menjelaskan bahwa tidak ada patokan yang sempurna dalam menjadi landasan bagi etika karena akan selalu ada kelemahan dan kekurangan.
  2. Leviathan oleh Thomas Hobbes (1986), berasumsi bahwa individu memiliki kecenderungan alami untuk diperhatikan khususnya tentang kepentingan dan kekesejahteraannya.
  3. Self-interest oleh Adam Smith (1723-1790), bahwa setiap orang memiliki self-interest. Self-interest ini bukan hanya berarti orang ingin mementingkan dirinya sendiri, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan orang-orang terdekatnya, keluarganya, dan lingkungan sosialnya. Dalam hal ini, orang berperilaku sesuai etika untuk tujuan memenuhi kepentingan dirinya dan orang-orang terdekatnya, termasuk lingkungan sosialnya.
  4. Teori Imanuel Kant (1724-1804) bahwa sesuatu yang baik (mutlak) adalah niat baik. Konsep moral yang paling baik adalah alasan, bukan pengalaman.

Pada dasarnya, manusia berperilaku etis dengan latar belakang motivasi yang belum tentu sama, hal ini dikarenakan adanya self-interest yang secara alami dimiliki oleh manusia. Namun, secara umum, ada beberapa dasar yang dijadikan teori dalam berperilaku etis, seperti utilitarianism & consequentialism, deontological, justice & fairness, dan virtue ethics.

  1. Utilitarianism: mendefinisikan bahwa perilaku etis akan menghasilkan kebahagian yang paling tinggi dan kesedihan yang paling sedikit. Teori ini berorientasi pada kepentingan orang banyak. Kelemahan dari teori ini adalah kebahagiaan dan kesedihan yang sulit diukur dan bersifat relatif dan subjektif.
  2. Deontological: menjelaskan tentang motivasi yang mendasari seseorang berbuat etis. Hal ini sesuai dengan teori Kant bahwa sesuatu yang baik didasarkan pada niat baik. Dengan logika ini, maka baik atau buruknya sesuatu dinilai dari motivasi diri sendiri. Namun, bisa jadi, seseorang bertindak sesuai etika karena mematuhi hukum yang berlaku dan takut dengan hukuman jika melanggarnya (terjadi ketika hukum dibuat dengan dasar nilai-nilai etika). Salah satu hal yang menjadi kelemahan deontology antara lain tidak adanya guidelines yang jelas untuk mendefnisikan baik atau buruk ketika ada konflik hukum satu dengan lainnya.
  3. Justice and fairness: teori ini dikembangkan oleh David Hume (1711-1776) yaitu bahwa kebutuhan akan keadilan itu muncul karena manusia tidak selalu mendapatkan manfaat atau tercukupi kebutuhannya sedangkan sumber daya jumlahnya terbatas. Salah satu pengembangan teori justice adalah distributive justice yaitu menyesuaikan apa yang telah dilakukan seseorang dengan apa yang akan dia peroleh.
  4. Virtue ethics: menginternalisasi nilai-nilai etika ke dalam jiwa atau pribadi individu dalam bentuk karakter, integritas, kepatuhan, dan sebagainya.

Teori-teori yang telah disebutkan di atas sangat dibutuhkan ketika dihadapkan dengan dilema etika atau proses pembuatan keputusan. Kontribusi ilmuwan yang nyata yang merupakan pengembangan dari teori tersebut ditunjukkan dengan EDM (Ethical Decision–Making Fraework). Selain itu, pembuatan keputusan juga harus dilakukan dengan analisis stakeholders yang meliputi shareholders, activist, governments, creditors, lenders, employees, customers, suppliers, dan lain-lain. Apa saja yang harus dianalisis? Salah satunya adalah impact atau dampak keputusan yang kita buat terhadap pihak-pihak tersebut.

Sebagai akuntan, kenapa harus beretika? Secara sederhana, dapat dijelaskan dengan prinsip utilitarianism, yaitu ketika seorang akuntan beretika, maka tujuan dari akuntansi untuk membawa kesejahteraan sosial akan tercapai, tetapi jika akuntan melakukan tindakan tidak beretika, maka lingkungan sosial yang dibina akan terpengaruh, misalnya perusahaan jadi bangkrut, lalu karyawan di-PHK, terkena kasus hukum lalu investor mengalami kerugian, auditor dipenjara, dan sebagainya.

Perilaku etika akuntan ini dapat dilakukan berdasarkan teori deskriptif, normatif, dan politis. Literatur deskriptif menjelaskan bahwa akuntan dpat dipahamkan mengenai perpaduan yang kompleks antara karakter individual, dan faktor-faktor terkait isu yang ada. Literatur normatif menunjukkan bagaimana akuntan harus bertindak berdasarkan konsekuensi, pandangan rasional, dan bagaimana akuntan berpikir dalam melakukan tindakan. Sedangkan pandangan politis berpendapat bahwa akuntan ditempatkan dalam konteks sosial, politik, dan ekonomi yang lebih luas.

Dari keseluruhan pembahasan mengenai nilai-nilai filosofi etika, masih terdapat kejanggalan yang belum terjawab. Di dalam tulisan Brooks dan Dunn (2011), disebutkan bahwa pada dasarnya etika itu terpisah dari keyakinan kepada Tuhan, tetapi di kalimat lain disebutkan pula bahwa kita harus beretika karena itu adalah hukum Tuhan. Hal ini menimbulkan pertanyaan di benak saya. Kalau memang etika berkaitan dengan keyakinan kepada Tuhan, bagaimana dengan orang atheis? Apakah lalu mereka tidak beretika?

Pertanyaan tersebut masih berupa pertanyaan yang penting untuk dianalisis melalui sebuah pemikiran serius. Namun, harus juga dipahami konteks di dalam buku tersebut secara keseluruhan. Menurut salah satu dosen pengajar di kelas Magister Sains jurusan Akuntansi mata kuliah Etika Bisnis, konteks buku ini tidak condong ke salah satu paham apakah menganut bahwa etika adalah masalah prinsip ketuhanan, ataukah tidak ada hubungan di antara keduanya, karena Brooks dan Dunn (2011) mengatakan bahwa prinsip ketuhanan bisa jadi merupakan salah satu faktor kenapa manusia harus beretika.

Lalu bagaimana peran agama di dalam etika? Ini juga menimbulkan pertanyaan ketika dihadapkan dengan gambaran yang tersaji dalam diagram venn bahwa bisnis, hukum, dan etika dapat berpotongan memunculkan area yang merupakan interseksi dari ketiga hal tersebut. Jika perilaku beretika didasarkan pada keyakinan pada hukum Tuhan, dengan logika tersebut seharusnya ada juga overlap antara etika dengan agama. Meskipun demikian, akan lebih baik jika pembahasan mengenai etika dilakukan terlepas dari unsur agama manapun agar lebih mendekat pada universalitas ilmu pengetahuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 13, 2013 by in Just Thinking.

What I Tweet

KALENDER

March 2013
M T W T F S S
« Oct   Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 304 other followers

Who am I

sakinatantri

sakinatantri

...an extrovert and sociable person, loves fun and neutrality, disorganized oftenly...

View Full Profile →

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 304 other followers

%d bloggers like this: