follow, live, choose

my dreams, my life, my future

If You Don’t Write, You Don’t Read

Semarang, 27 Mei 2012, 01.10 ditemani suara ayam berkokok.

Assalamualaikum bloggers.

Tulisan ini diawali dengan salam. Begitu sulitnya buat saya yang belum terbiasa menulis blog yang bisa dilihat orang banyak begini meskipun sudah pernah mem-publish jurnal ekonomi (ehm, belum-belum udah sombong). Haha bukan maksud saya nyombong, hanya saja saya benar-benar merasa masih awam dengan blogging. Mungkin saya yang ketinggalan zaman, atau zaman yang terlalu cepat buat saya? hehehe, gak penting lah itu. Yang penting adalah, sekarang ini saya sedang terinspirasi oleh satu quote yang menjadi judul dari tulisan ini (saya lupa entah siapa nama orang yang mempopulerkan quote tersebut, kayaknya sih bapak saya. hehe). If you don’t write, you don’t read. Simpel. Tapi menarik. Agak berbeda dengan quote-nya Wijaya Kusumah dalam blog edukasi kompasiana “Don’t write if you don’t read“. Sepertinya mengarah ke satu hal yang sama: “kalau tidak menulis, berarti tidak membaca” dengan “kalau tidak membaca, ya jangan menulis”. Tapi pernyataan kedua menurut saya terlalu memberikan judgement bahwa orang tidak bisa menulis kalau tidak membaca. Ini dapat menimbulkan efek pesimistis. Akan berbeda dengan kalimat “kalau tidak menulis, berarti tidak membaca”, kalimat ini memberikan tantangan dan semangat tersendiri khususnya buat saya untuk bisa starting a blog seperti ini, meskipun nantinya, penulis-penullis juga diharapkan untuk mengedepankan kualitas dalam menulis!

Orang banyak membaca itu biasa, tetapi orang yang bisa mengungkapkan kata-kata ke dalam tulisan menurut saya luar biasa. Terbukti, saya sendiri masih rada canggung untuk menulis dan mengungkapkan apa yang saya pikirkan untuk menciptakan tulisan dalam blog ini, meskipun I believe that such cases don’t happen to many people. Lalu apa relevansinya dengan quote yang saya sebutkan tadi? Ini lebih menekankan pada pentingnya menulis. Buku adalah jendela ilmu (dan seiring berjalannya waktu quote ini perlu digeser menjadi “internet adalah jendela ilmu”), saya masih ingat quote ini dari guru SD yang mengajar saya belasan tahun yang lalu. Buku adalah suatu benda yang kita baca (atau kita pakai untuk gebuk tikus, it’s up to you), dan ketika kita membaca berarti kita telah membuka jendela ilmu untuk diri kita sendiri. Jika kita menulis, itu berarti kita menularkan apa yang kita dapat dari jendela itu kepada orang lain. Betapa mulianya. Memang setelah dipikir-pikir (dan dirasa-rasakan), kegiatan “menularkan” (dalam konteks positif lho ya, bukan semacam penyakit atau virus) atau “membagikan” atau istilah kerennya “sharing” itu membuat hidup kita semakin afdol, saudara-saudara!😀 Ini benar-benar terjadi pada saya, yang dulu ketika sedang membuat skripsi saya sangat rajin membaca puluhan jurnal ekonomi kemudian saat skripsi itu selesai, diujikan, dan saya lulus, lalu apa? so what? Lalu berawal dari iseng saya ikuti call for paper yang diadakan oleh JIEB (Journal of Indonesian Economics and Business) dengan mengubah skripsi saya ke dalam bentuk paper dan alhamdulillah lolos 10 paper terbaik.

Senang, bukan masalah bangga karena nama saya tercantum lalu jurnal saya dibaca orang se-Indonesia. Bener lho ini. Tapi karena pada akhirnya perjuangan saya membaca puluhan jurnal, menyusun kata-kata dalam skripsi, lalu menyusun jurnal saya sendiri hingga dipublikasikan itu bisa membuat saya merasa berkontribusi kepada dunia pendidikan. Maybe agak lebay, gak juga berkontribusi banyak dalam dunia pendidikan sih. Sedikit. Belum ada apa-apanya dibandingkan ratusan profesor yang telah menerbitkan banyak jurnal2 berkualitas. Tetapi ini masalah rasa. Seperti yang saya bilang tadi bahwa hidup itu rasanya jadi lebih afdol ketika kita berbagi, seperti kalo teman2 habis dapat kado dan kue ultah lalu besoknya traktir-traktir teman, seperti kalo teman-teman habis dapet rezeki mungkin gaji atau bonus pertama lalu dipersembahkan ke orang tua, seperti kalo teman-teman dapat jatah makan trus pengen bagiin ke anak jalanan yang jarang makan enak, nah seperti itulah kira-kira.

So, as a closing statement, berbagi tidak harus dimulai dengan hal-hal materiil, tetapi mulailah dengan hal-hal kecil seperti tulisan yang bermanfaat.

Salam berbagi!

Wassalamualaikum wr.wb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 26, 2012 by in Just Saying.

Navigation

%d bloggers like this: