follow, live, choose

my dreams, my life, my future

Let It Be. Whatever It Takes.

Beberapa minggu terakhir, saya hampir setiap hari “menyambangi” Djendelo Cafe, yang letaknya di Jalan Gejayan perempatan ringroad, atasnya toko buku Togamas. Kenapa? Karena di sini saya dan kedua teman saya biasa berdiskusi. Kami bertiga tergabung dalam satu kelompok yang mengikuti kompetisi business plan wirausaha untuk mendapatkan dana hibah dari suatu bank dengan prisnip kerakyatan yang diselenggarakan oleh suatu badan penelitian di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Kenapa saya mau ikut ini padahal yang mengadakan adalah badan penelitian yang saya pernah menyimpan perasaan sentimen di waktu yang lampau? bukan karena saya sudah berdamai dengan badan ini, tapi karena saya sedang mencoba bersikap objektif. Rasa sentimen ini muncul lebih karena “dendam pribadi” lantaran kecewa dengan sistem manajemennya yang kurang sesuai dengan nilai-nilai moral kesejahteraan rakyat Indonesia. #pret abis. Oke saya lagi gak pengen membahas itu sekarang, tapi saya pengen membahas apa yang saya alami kemarin, tanggal 6 Juni 2012, di Djendelo Cafe tepatnya, selepas adzan isya. Saya bertemu dengan seseorang bernama Mas Lingga, yang notabene dia dianugerahi “gift” yang istimewa, bisa melihat aura orang lain dan mengethaui apa yang sedang orang lain pikirkan. Seorang teman saya membujuk saya untuk berkenalan dengan Mas Lingga ini dan mencoba “dibaca” oleh beliau. Akhirnya saya nekat mencoba karena saya juga penasaran, bagaimana cara Mas Lingga “membaca” aura dan pikiran saya. Singkat cerita, saya samperin Mas Lingga (yang memang mebuka layanan checkup gratis di Djendelo). Checkup di sini bukan checkup kesehatan, tapi lebih ke hal2 yang gak bisa dilihat orang awam, ya kayak aura dan pikiran2 gitu. Nah, sebelum dia didatengin banyak pelanggan, saua udah buru2 nyamperin mas itu dan langsung menjabat tangan. Dia terdiam sebentar, ternyata, dari cara jabatan tangan aja Mas Lingga udah bisa “ngebaca” energi saya. Setelah diprsilakan duduk, saya dipersilakan untuk mengisi kuisioner yang sistemnya udah terkomputerisasi. Dengan menjawab 55 pertanyaan, didapat hasil berupa diagram yang menunjukkan tujuh chakra (ga tau deh cakra ini didapet dari pelajaran apa, kayaknya si filem kartun avatar😀. nggak ding, dari ajaran Buddha. yang jelas elemennya meliputi: chakra root, sex, throat, heart, pusar,third-eye, dan mahkota). Apa yang dia bilang waktu ngelihat hasil pengisian kuisioner itu? “Wah bener dugaanku semula. Anak ini bagus banget energinya.” Aku tiba2 gak fokus, entah mikirin apa. E tau2 Mas Lingga tanya: “Hoi kamu mikirin apa? Fokus dong”. Gile bener ini. Trus diceritain deh satu per-satu. Kesemuanya dari tujuh chakra itu memang punya saya bagus semua, ditandai dengan prosentase yang positif semua (range -100% sampai 100%). Namun, ada satu hal yang over dari hasil kuisioner itu, saya ternyata over masalah hati. Dari ketujuh chakra, hati/jantung saya memiliki nilai yang paling tinggi, sedangkan prosentase paling rendah ada pada mata ketiga (intuisi). Yang artinya adalah:

“Hati” yang terlalu tinggi menandakan bahwa saya terlalu menggunakan cinta secara berlebihan dalam hubungan saya dengan orang-orang di sekeliling saya, sehingga cenderung “posesif”, kalo saya udah sayang ya sayang aja, gitu. Well, ini ada benarnya dan ada gak benarnya juga. Malah saya merasa sama sekali gak posesif ke orang, cenderung cuek. Ya memang saya memposisikan “heart” itu sebagai rasa sayang ke teman2 dalam kehidupan sosial. Saling membantu, gak tegaan liat orang susah, gampang terenyuh, tapi gak posesif. Hehehe😀. Chakra yang paling rendah prosentasenya adalah chakra mata ketiga. Ini berarti saya kurang intuitif. Well, sure i’m not intuitiveat all. Ini valid, berdasarkan analisis socionics juga mengatakan bahwa saya memang bukan orang intuitif. Saya mudah terbuka dengan hal-hal baru, tetapi kurang “menghasilkan” ide dan gagasan-gagasan. Inilah kenapa saya dikatakan sebagai orang yang “hadir di saat sekarang”, bukan orang yang berangan-angan. Saya harus memperbaiki hal ini secepatnya! Chakra-chakra yang lain semuanya normal, artinya memang semua komponen dalam kehidupan saya berjalan dengan baik J hihihi.

Ringkasnya, yang bisa saya ingat dari penjelasan chakra-chakra yang lain adalah:

Image

chakra bumi (root): semakin besar prosentasenya, berarti orang itu semakin jarang terkena penyakit (???)

chakra sex: menandakan kesenangan tanpa rasa bersalah (semakin tinggi prosentasenya, semakin sering orang menyenangkan diri sendiri tanpa rasa bersalah atau menyesal).

Chakra tenggorokan: semakin besar prosentasenya, semakin jujur orang tersebut karena ini berkakitan dengan apa yang keluar dari tenggorokan (pita suara).

Chakra perut dan chakra mahkota: bagian ini saya lupa (pelupa adalah ciri khas orang extrovert. #justifikasi).

sayangnya, chakra ini prosentasenya bisa berubah-ubah sesuai dengan apa yang sedang kita rasakan saat itu, bisa dibilang tergantung mood. Kalau mood lagi oke, auranya jadi cerah, tapi kalo lagi galau, bisa jadi aura yang kebaca jadi suram.

Nah setelah itu, saya ditawari untuk mencoba “dibaca” melalui tarot. Saya bukan orang yang percaya tarot, tapi bolehlah sekali2 saya mencoba. Saya mengutarakan terlebih dahulu bagian dari diri saya yang mana yang akan coba dibaca, yaitu kegalauan yang terjadi ketika saya berpikir apakah lanjut sekolah S2 adalah keputusan yang tepat. Saya mulai mengocok kartu tarot itu, mengambilnya satu per-satu dengan posisi yang acak, setelah dapat 3 kartu, mulailah kartu-kartu itu dianalisis. Kartu pertama, gambar orang nunduk dengan jubah hitam. Menandakan bahwa saya sedang galau. Benar. Kartu kedua bergambar pedang, menandakan bahwa saya sebenarnya akan berhasil kalau saya mau nekat. Ternyata benar juga. Kartu ketiga bergambar orang memegang piala. Ini memang kartu yang menggambarkan kemenangan, berarti bahwa saya akan memperoleh kemenangan karena saya punya kemampuan. Amin. Setelah itu saya mengambil sebuah kartu lagi, dan gambarnya adalah sekelompok orang dengan koin bertebaran di sekelilingnya. Ini menggambarkan dukungan keluarga yang sebenarnya sudah saya peroleh. Selanjutnya, saya ambil satu kartu lagi, gambarnya adalah seorang wanita yang bijaksana. Kata Mas Lingga, saya sudah cukup bijaksana dengan mengambil keputusan ini. Kalau ini benar, saya amini saja. Tapi kalau ternyata salah, memang dari awal saya tidak percaya tarot. Lha terus apa gunanya saya mencoba? Ya iseng saja😀

Karena kegalauan saya belum terjawab, saya disuruh mengambil 2 kartu lagi (jadi total ada 7 buah kartu). Kartu keenam bergambar orang naik kuda di pinggir tebing. Ini menggambarkan kenekatan. Well, so far saya masih ngerasa itu bener. Selanjutnya, kartu terakhir bergambar seorang puteri dengan satu koin di pngkuannya, menggambarkan kegalauan yang sesungguhnya berkaitan dengan materi. Ternyata benar juga! Saya memang sempat berpikir bahwa saya tidak boleh menyusahkan orang tua saya karena lanjut S2 sementara teman2 saya rata-rata sudah berpenghasilan tetap dan mampu hidup mandiri. Tidak lama kemudian, saya dapat telepon dari ibu saya. Beliau bilang bahwa saya gak boleh nyambi kerja kalau nanti sekolah S2 karena saya harus fokus. Ya Allah, benar2 menjawab kegalauan! Ajaib ya? Memang hidup penuh keajaiban.

Tapi, belakangan saya berpikir, tarot itu sebenarnya kartu yang general sekali, mampu menjawab semua pertanyaan. Kalau dipikir2 ya, hasil dari analisis kartu-kartu saya itu dapat dirangkum dalam dua poin saja:

– Kalau punya kemampuan, digali saja kemampuan itu supaya kamu berhasil. Cukup general. Bisa diterapkan untuk semua permasalahan hidup semua orang.

– Kalau diri kamu masih ragu-ragu padahal keluarga sudah mendukung keputusan kamu, kamu nekat saja! Ini juga general kan?

Peluang terambilnya kartu-kartu itu kan sepersekian puluh tiap pengambilan. Apa benar kalo secara otomatis kartu2 itu menunjukkan apa yang sesuai dengan yang kita alami? Lalu apa yang menggerakkan kita untuk mengambil kartu-kartu itu? Kata hati? Alam? Takdir? Who knows.

Yang penting adalah mengambil hikmah dari semua permasalahan.

Ini masih sebatas pandangan saya saja terhadap kartu tarot. Meskipun saya tidak percaya, tapi dari sini saya mendapat pelajaran untuk satu hal: LET IT BE. WHATEVER IT TAKES!

Sesuatu terjadi karena suatu alasan. Just believe in God. He has the best plan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 8, 2012 by in Just Saying.
%d bloggers like this: