follow, live, choose

my dreams, my life, my future

Good Corporate Governance Menghasilkan Laporan Keuangan Berkualitas

Dalam kehidupan bisnis yang bergejolak dan penuh ketidak-pastian seperti sekarang ini, berbagai pelaku bisnis saling berkompetisi untuk tetap survive dengan segala sumber daya yang dimiliki. Menciptakan bisnis yang dapat survive dan membangun sumber daya yang handal tidak mudah karena organisasi bisnis memerlukan kekuatan dalam mempertahankan nilai-nilai moral dan etika agar tidak terbawa arus. Maraknya kasus-kasus penyalahgunaan wewenang dalam arti korupsi telah membuat suatu organisasi bisnis kehilangan jati dirinya. Hal ini justru akan mengarah pada kerugian besar yang akan dialami entitas bisnis/perusahaan.

Perusahaan membutuhkan tata kelola yang baik untuk tetap mempertahankan nilai-nilai yang dianut secara organisasional oleh perusahaan tersebut. Tata kelola perusahaan yang baik, atau sering disebut good corporate governance (GCG) merupakan isu yang dikenal bertahun-tahun lalu tetapi belum banyak perusahaan di Indonesia yang tanggap karena belum merasakan arti pentingnya. Corporate governance adalah suatu sistem yang terdiri atas fungsi-fungsi yang dijalankan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk memaksimalkan penciptaan nilai perusahaan sebagai entitas ekonomi maupun entitas sosial melalui penerapan prinsip-prinsip dasar yang berterima umum (Warsono et.al, 2009).

Dalam penerapannya, corporate governance memiliki prinsip yang harus dijalankan. Sejauh ini belum ada prinsip-prinsip dasar tunggal yang disepakati oleh sebagian besar lembaga yang mengembangkan model corporate governance. Meskipun demikian, sebagian besar lembaga yang mengembangkan model ini juga menggunakan beberapa prinsip dasar yang sama, misalnya transparency (transparansi, menyangkut keterbukaan informasi), independency  (independensi),  dan  accountability  (akuntabilitas) (Warsono et.al, 2009). Ketiga prinsip tersebut harus dilaksanakan secara bersama-sama dan merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisah untuk menwujudkan good corporate governance dalam organisasi. Dengan maraknya kasus-kasus penyalahgunaan wewenang yang terjadi di berbagai lembaga pemerintahan maupun swasta makin menjadikan good governance penting untuk diimplementasikan. Lalu bagaimanakah cara kita melihat bahwa suatu perusahaan telah mengimplementasikan good corporate governance?

Dalam artikel ini dirangkum beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa implementasi good corporate governance dapat dilihat melalui laporan keuangan yang berkualitas. Semakin tingi tingkat implementasi good corporate governance, semakin tinggi pula kualitas laporan keuangan yang diterbitkan. Laporan keuangan yang berkualitas dinilai dengan menjawab pertanyaan seberapa besarkah angka-angka dalam laporan keuangan dapat dipertanggungjawabkan. Proksi yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat akuntabilitas laporan keuangan salah satunya dengan menilai manajemen laba atau earnings management yang dilakukan oleh perusahaan.

Earnings management terjadi ketika manajer menggunakan judgment dalam pelaporan keuangan dan dalam menyusun transaksi untuk mengubah laporan keuangan yang dapat digunakan untuk menyesatkan para stakeholders mengenai kinerja ekonomik yang melatar belakangi perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil dari perjanjian yang tergantung pada angka-angka akuntansi yang dilaporkan (Healy dan Wahlen, 1999).

Apakah yang melatar belakangi praktik earnings management?

Keinginan untuk mengutamakan kepentingan pribadi dapat terjadi di antara manajemen dengan pemilik perusahaan. Manajemen menginginkan pemenuhan kebutuhan ekonominya sedangkan pemilik menginginkan return yang tinggi dari investasinya kepada perusahaan. Hal ini memungkinkan di dalam perusahaan terjadi konflik kepentingan. Salah satu cara untuk menjembatani konflik kepentingan ini adalah dengan mengakomodasi melakukan suatu cara agar laba perusahaan terlihat menguntungkan, sehingga kepentingan kedua pihak dapat terakomodasi. Karena manajemen berhasil membuat perusahaan memperoleh laba yang menguntungkan, maka gaji atau bonus yang diperolehnya dapat meningkat, di sisi lain, pemilik perusahaan dapat berharap return dari investasi juga meningkat. Salah satu cara yang dilakukan untuk menjadikan laba menarik adalah dengan melakukan manajemen laba atau earnings management.

Lalu apa relevansinya dengan kualitas laporan keuangan? Perusahaan yang melakukan earnings management tentu tidak dapat menjamin bahwa angka-angka di dalam laporan dapat dipertanggungjawabkan secara moral, meskipun secara legal penggunaan metode-metode itu benar dan diperbolehkan. Sesuai dengan hasil penelitian Kurniawati, 2011 bahwa semakin perusahaan membuat laporan keuangan yang berkualitas, semakin kecil tingkat earnings management yang dilakukan. Dalam banyak penelitian, corporate governance diimplementasikan untuk meminimalkan earnings management.

Bicara corporate governance, tidak terlepas dari struktur dewan di organisasi perusahaan. Struktur dewan tersebut erat kaitannya dengan karakteristik dewan. Jun (2010) menekankan  pengaruh dari karakteristik dewan terhadap nilai dan kinerja perusahaan. Karakteristik dewan meliputi dewan direksi, prosentase kepemilikan dewan, dan ukuran dewan. Semakin efektif kinerja dewan direksi, semakin menurunkan agency cost. Agency cost muncul salah satunya disebabkan oleh perbedaan kepentingan antara manajemen dengan pemilik perusahaan sehingga dibutuhkan biaya monitoring untuk memantau apakah kinerja manajemen telah sesuai dengan tujuan pemilik. Dapat dikatakan agency cost muncul karena adanya konflik kepentingan. Konflik kepentingan inilah yang memicu praktik earnings management. Dengan demikian, karakteristik dewan yang menunjukkan corporate governance yang efektif akan menurunkan tingkat earnings management.

Xie, Davidson III, dan DaDalt pada tahun 2001 melakukan penelitian pada 282 perusahaan dari S&P 500 index seperti terdaftar dalam June Standard & Poor’s directory untuk tahun 1992, 1994, and 1996. Penelitian ini bertujuan antara lain menguji peran dari dewan direksi, komite audit, dan komite eksekutif dalam mencegah earnings management; mengetahui apakah terdapat hubungan antara peran dewan dan komite terhadap earnings management. Corporate governance diukur dengan komposisi komite audit dan frekuensi kehadiran rapat dewan. Disimpulkan bahwa komposisi komite memiliki hubungan dengan tingkat earnings management. Hal ini dikarenakan komposisi komite audit menyebabkan perbedaan kinerja dalam menjalankan fungsi deteksi kesalahan. Selain itu, terdapat hubungan antara tingkat earnings management yang lebih rendah dengan frekuensi rapat dewan dan komite. Aktivitas dewan dan mempengaruhi kemampuan anggota untuk melakukan monitoring yang efektif. Semakin banyak dewan dan komite yang menghadiri rapat, semakin rendah earnings management.

Penelitian yang sama dilakukan oleh Chtorou, Bedard, dan Courteau (2001) dengan tujuan menginvestigasi apakah praktik corporate governance perusahaan memiliki pengaruh pada kualitas informasi keuangan yang diumumkan kepada publik dan menginvestigasi pengaruh dari praktik pemerintahan yang baik oleh dewan direksi dan komite audit terhadap praktik earnings management melalui discretionary accrual. Berdasarkan penelitian ini ditemukan bahwa corporate governance memiliki hubungan negatif terhadap earnings management. Sesuai dengan penelitian tersebut, adanya kulitas corporate governance yang semakin baik, earnings management  dalam perusahaan semakin dapat diminimumkan.

Klein (2006) dalam penelitiannya pada 687 perusahaan terbuka di Amerika Serikat yang bertujuan untuk menguji apakah komite audit dan karakteristik dewan berhubungan dengan earnings management perusahaan menyatakan bahwa terdapat hubungan negatif antara corporate governance dengan earnings management. Dalam penelitian tersebut, corporate governance lebih ditekankan pada independensi dewan dan komite. Hubungan signifikan terjadi ketika komite audit memiliki lebih sedikit direktur independen. Earnings management  berhubungan positif dengan kedudukan CEO dalam komite kompensasi dewan, dan berhubungan negatif dengan kepemilikan saham CEO dan kedudukan outside shareholder dalam komite audit dewan.

Di India, penelitian yang sejenis juga dilakukan oleh Sarkar, Subrata Sarkar, Kaustav-Sen (2006) untuk mengetahui pengaruh karakteristik dewan terhadap earnings management di India, sebagai salah satu negara besar yang sedang berkembang. Penelitian pada 500 perusahaan manufaktur besar dengan periode lebih dari 2 tahun (minimal 2003-2004) yang terdaftar di Bombay Stock Exchange ini menghasilkan kesimpulan bahwa Independensi dewan memiliki hubungan negatif dengan earnings management. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa independensi merupakan salah satu dari tiga prinsip umum corporate governance, maka disimpulkan pula bahwa penerapan salah satu prinsip corporate governance memiliki hubungan negatif dengan earnings management.

Di Indonesia sendiri, telah dilakukan penelitian oleh Siregar dan Utama (2006) mengenai pengaruh corporate governance terhadap earnings management. Penelitian ini telah membuktikan bahwa corporate governance memiliki pengaruh signifikan terhadap earnings management. Sampel yang diteliti adalah 144 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta untuk periode non krisis (1995-1996 dan 1999-2002). Berdasarkan pengujian, kepemilikan perusahaan oleh keluarga memiliki pengaruh positif terhadap earnings management. Kepemilikan perusahaan oleh keluarga dapat mendistorsi penerapan prinsip independensi di perusahaan karena sifat dasar manusia yang ingin mengutamakan kepentingn pribadi (Eisenhardt, 1998) akan semakin terakomodasi dengan adanya hubungan keluarga di antara pemilik perusahaan.

Kesimpulan yang sejenis juga diperoleh dari penelitian Cornett, Marcus, dan Tehranian (2007) yang dilakukan pada 100 perusahaan yang diperoleh dari S&P (Standard & Poor’s). Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah terdapat pengaruh nyata dari struktur corporate governance dengan incentive-based compensation dalam kinerja perusahaan ketika kinerja yang diukur disesuaikan untuk akibat dari earnings management dan menghasilkan kesimpulan bahwa  monitoring  yang dilakukan melalui kepemilikan institusional, perwakilan institusional dalam dewan, dan  independent outside directors memiliki pengaruh negatif terhadap earnings management. Hasil penelitian ini sesuai dengan Murhadi (2009),  yang berkesimpulan bahwa good corporate governance berpengaruh signifikan terhadap praktik earnings management yang dilakukan oleh suatu perusahaan. Salah satu indikator yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah adanya kepemilikan institusional. Adanya pemegang saham pengendali yang berbentuk institusi mendorong pengawasan menjadi lebih profesional sehingga berdampak pada penurunan praktik earnings management.

Garcia-Meca dan Sanchez-Ballesta (2009) telah melakukan pengkajian ulang 35 studi di Amerika mengenai penelitian-penelitian terdahulu tentang kaitan antara corporate governance  dengan earnings management. Penelitian yang disebut dengan meta-analyses ini menghasilkan kesimpulan bahwa corporate governance efektif dalam mencegah adanya kebijakan manajemen yang memicu timbulnya  earnings management. Dengan kata lain,  corporate governance memiliki pengaruh negatif terhadap earnings management.

Dengan adanya kesimpulan dari berbagai penelitian yang dilakukan di berbagai negara tersebut dapat ditarik satu kesimpulan yang koheren yaitu penerapan good corporate governance dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan. Merupakan pilihan yang sulit bagi perusahaan yang belum memahami arti penting good corporate governance dalam mempertahankan bisnis secara konsisten. Laba yang menarik itu penting untuk menarik investor, tetapi laba yang menarik tanpa kualitas yang baik tidak akan memberikan prospek yang bagus bagi kelangsungan perusahaan. Dan laporan keuangan yang berkualitas adalah laporan keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara legal maupun secara moral. Hal ini hanya dapat dilakukan jika perusahaan menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance secara efektif.

Referensi:

Chtourou, S. M., J. Bédard, and L. Courteau, 2001. “Corporate Governance and Earnings Management”. Available at SSRN: http://ssrn.com/abstract=275053 or doi:10.2139/ssrn.275053

Cornett, Marcia Millon; Alan J. Marcus; Hassan Tehranian. (2007). “Corporate Governance and Pay-for-Performance: The Impact of Earnings Management”. Journal of Financial Economics 87 (2008). pp.357–373.

Eisenhardt, Kathleen M. (1989). “Agency Theory: An Assessment and Review”. Academy of Management Review, 1989, Vol. 14, No. 1, 57-74.

García-Meca, Emma; J. P. Sánchez-Ballesta. (2009). “Corporate Governance and Earnings Management: A Meta-Analysis”. Corporate Governance: An International Review, 2009, 17(5): 594–610.

Healy, Paul M and J.M. Wahlen. (1999). “A Review of The Earnings Management Literature and Its Implications for Standard Setting”. Accounting Horizon (December), p: 368.

Jun, SHI. (2010). “Review on Researches of Earnings Management and Corporate Governance Mechanism”. Journal of Modern Accounting and Auditing, Vol.6, No.11.

Klein, April. (2006). “Audit Committee, Board of Director Characteristics, and Earnings Management”. New York University School of Law, New York.

Kurniawati, Novi. (2011). “Pengaruh Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Terhadap Manajemen Laba dengan Kualitas Audit sebagai Variabel Pemoderasi”. Publikasi Ilmiah. Universitas Brawijaya Malang.

Murhadi, Warner R. (2009). “Studi Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Praktik Earnings Management pada Perusahaan Terdaftar di PT Bursa Efek Indonesia”. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol.11, No. 1, Maret 2009: 1-10

Sarkar, Jayati; Subrata Sarkar; Kaustav Sen. (2006). “Board of Directors and Opportunistic Earnings Management: Evidence from India”. Journal of Accounting, Auditing & Finance (2006).

Siregar, Sylvia V. N. P dan Sidharta Utama. (2006). “Pengaruh Struktur Kepemilikan, Ukuran Perusahaan, dan Praktek Corporate Governance terhadap Pengelolaan Laba (Earnings Management)”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol. 9, No. 3, September 2006. Hal 307-326.

Warsono, Sony; Fitri Amalia; Dian Kartika Rahajeng. 2009. Corporate Governance Concept and Model: Preserving True Organization Welfare. Yogyakarta: Center for Good Corporate Governance FEB UGM.

Xie, Biao. Wallace N. Davidson III, Peter J. DaDalt. (2001). “Earnings Management and Corporate Governance: The Roles of the Board and The komite Committe”. Southern Illinois University, Illinois.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 15, 2012 by in Just Thinking.
%d bloggers like this: