follow, live, choose

my dreams, my life, my future

Happy Birthday!!!

Ibnu Pradipta in Action

Kemarin, 15 Juni 2012 adalah hari istimewa karena my dearest darling (hahaha) Ibnu Pradipta usianya bertambah satu! Yap, 23 tahun sudah dia lahir di dunia ini. Sebenarnya hari itu ayah saya juga berulang tahun tetapi mengenai ayah saya akan saya tulis berikutnya dengan tulisan yang lebih serius dan bermakna.

Ibnu Pradipta, laki-laki yang saya kenal hampir lima tahun lalu, tepatnya sekitar akhir Juni 2007, dahulu adalah seorang yang kalem, pendiam, dan dingin. Saat itu kami sedang dalam bimbingan belajar STAN (Sekolan Tinggi Akuntansi Negara) yang diselenggrakan oleh Departemen Keuangan Semarang selama dua minggu. Dia datang dari Pati untuk mengikuti bimbingan ini karena motivasi dari orang tuanya. Hari kesekian bimbingan, saya merasa ada satu orang yang belum berkenalan dengan saya. Saat istirahat makan siang, saya datangi tempat dia duduk sambil makan snack lalu kami berkenalan dengan kalimat pembuka seperti ini:

S: “Halo, nama kamu Ibnu ya? Aku Sakina. Kamu tinggal di mana?”

I: “Pati”. dia menjawab. Saya merasa rada dongkol juga, tanya panjang-panjang dijawabnya hanya dengan empat huruf. P-A-T-I. Kenapa gak dielaborasi dengan “Aku aslinya Pati kok. Kamu mana?”

S: Terus di Semarang ngekos atau ikut saudara?”

I: “Kontrak”

S: “Ohh kontrak… Yaudah dilanjutin dulu aja makannya nanti kita ngobrol lagi”

I: “Nih makananku buat kamu aja. Aku lagi sariawan.”

S: “Diobatin aja, pake albothyl biar cepet sembuh.?”

I: “Ada.”

S: (oke, daripada garing crispy sama anak ini mending aku makan aja makanan yang dia kasih. Nyumpelin mulut seems better than to open my mouth then dongkol sendiri).

Sepuluh menit selanjutnya sebelum masuk ke kelas bimbingan cuma saya isi dengan ngobrol-ngobrol sama temen-temen cewek. Biar aja dia dicuekin, sapa suruh jadi orang begitu amat.

Ini sekilas cerita tentang hari kesekian pertemuan saya dengan Ibnu Pradipta. Hari kemudian, saya masih ingat waktu itu hari Jumat, saya pakai baju merah, dia pakai baju biru, saya main-main ke lantai atas untuk shalat dzuhur setelah jumatan selesai. Para cowok sedang keluar meninggalkan mushola dan saya lihat dia lagi garuk-garuk leher gaya khasnya. Inilah kutukan yang tidak terhindarkan sampai sekarang. Setelah semua anak masuk ke kelas, saya lihat dia duduk di tempat duduknya di ujung meja (orang-orang introvert cenderung memilih duduk di ujung meja). Dalam hati saya mengucapkan satu kalimat yang menjadi kutukan buat dia sampai sekarang. Bagaimana bunyi kalimat kutukan itu? Rahasia. Hahaha.

Dala waktu yang cukup singkat, beberapa hari setelah bimbingan belajar berakhir, jauh-jauh dari Pati dia main ke rumah saya di Semarang dan menyatakan perasaannya pada saya melalui sebatang coklat Van Houten. Gyahahahaha… oke kutukan itu berhasil.

Dan karena kalimat kutukan itulah (kutukan 10% takdir 90%) kami bersama-sama sampai saat ini.

***

Pada malam ulang tahun dia, saya bawakan kue cacat (saya menyebutkannya begitu) yang diberi lilin dan saya kasih dia kejutan kecil di parkiran game center di daerah Jakal tempat dia maen dota malam itu. Satu kata pertama yang dia ucapkan setelah meniup lilin: “Cacat”. Lalu kami tertawa bersama. Simpel. Hal-hal cacat beginilah yang bikin kita seperti terlepas dari beban.

100707 sampai 150612. Hampir lima tahun saya mengenal orang satu ini. Segala macam keburukan, kebaikan, kebobrokan, kecacatan, dan kemellow-annya sudah saya kenali. Tapi tetep saja ada beberapa sifat dia yang “unpredictable” dan gak masuk akal kadang-kadang. Dia adalah lelaki paling sabar yang pernah saya kenal. Gak pernah marah kalo saya gak bisa dihubungi, gak pernah marah kalo saya lama balas sms atau bbm, ga pernah marah kalau saya hina, gak pernah bentak kalo saya lagi berbuat kesalahn (cuma ngingetin secara berulang-ulang), gak pernah protes kalo saya rusakin barangnya, gak pernah arah kalo saya kelamaan dandan pas dia jemput, atau kelamaan mandi pas dia lagi keburu-buru ngajak makan karena kelaperan, karena setiap saya nglakuin hal nyebelin se-nyebelin apapun dia selalu ketawa dan bilang “aww” saat ngeliat muka bloon saya. Jadi ini salah siapa?

Ibnu Pradipta itu cool. Seems to be emotionless. Ketawa secukupnya, karena dia sering merasa gak pede dengan giginya yang gingsul kemana-mana (but this is cute I swear!). Dan satu lagi: dia HAMPIR GAK PERNAH memuji saya. This is so sexy, man! Hahahaha.

Dear, this is not enough for me to write all about you on this kind of blog page.

Saya tadinya pengen banget nulis hal-hal mengharukan di sini tapi kok malah jadinya begini? Saya memang tidak bisa romantis. Kadang ngiri sama temen-temen yang tulisan-tulisannya bisa puitis dan bikin orang terharu dan terbawa. Tapi yasudahlah, saya bisanya begini.😛

Banyak sekali hal-hal yang pernah kami lalui, dari yang bego-bego sampe terharu biru. Contoh hal yang bego-bego udah terlalu banyak karena kita selalu bego saat ngobrol berdua. Isinya hina-hinaan dan ketawa-ketawa.

Gila

Tapi suatu saat, pernah juga ngobrolin hal serius tapi tetep bego: “Besok kalo punya anak jangan sampe mirip kamu ya, kasian masa depannya kelak.” katanya sambil menatap mata saya. Bego abis.

Dia adalah seorang introvert yang lebih suka menyimpan masalahnya sendiri dan hanya diceritakan kepada orang-orang terdekatnya, bahkan kalau gak terlalu penting dia gak cerita. Sangat tidak cerewet, tetapi kalo udah ngelantur susah disuruh berhenti. Dia juga seorang yang intuitif, melihat masa lalu untuk memprediksi masa depan, dan ekstrimnya dia kadang cenderung trauma dan paranoid untuk hal-hal yang pernah dia takutkan di masa lalu. Dia lebih berpikir untuk masa depan secara lebih detail daripada melakukan apa yang ada di depannya sekarang. Saya merasa ini adalah sifat dia yang bisa melengkapi karakter saya yang lebih fokus ke peristiwa saat ini. Selain itu, Ibnu Pradipta adalah seorang pemikir dan perasa sekaligus, tapi kadarnya lebih banyak perasa-nya. Satu hal yang paling membuat saya kagum abis adalah ketika dia membeli barang yang sebenarnya tidak disukai dan tidak dibutuhkannya dari seorang bapak-bapak tua yang jalan di depan rumahnya, dan saya masih ingat ketika kami sedang lewat di Jalan Solo ada bapak-bapak tua sedang menjual boneka yang tampak sudah kotor karena debu jalanan yang dijual dengan harga sangat murah😦 dia langsung menghentikan kendaraan lalu menyuruh saya turun dan membeli salah satu boneka itu. Pernah juga waktu itu dia sedang ada janji dengan saya untuk keluar makan siang dan posisinya saat itu saya sudah uring-uringan karena kelaparan akut. Tepat saat dia siap-siap untuk menjemput saya, dia dimintai tolong oleh Bu RT untuk mengantarkannya ke pasar (atau ke mana ya, lupa, yang penting Bu RT). Sampe lama bangettttt akhirnya dia datang jemput saya dan minta maaf sama saya. Masih banyak lagi hal-hal kecil yang dia perbuat pada orang lain karena sifat dia yang gak tegaan sama orang yang sedang butuh.

Satu hal paling mengharukan yang paling saya inget dari dia adalah waktu itu saya lagi marah banget sama dia karena… karena apa ya, lupa! intinya, waktu itu saya lagi di Semarang untuk KRS-an semester 2, dia KRS-an juga tapi posisi di Jogja. Nah karena saya marah banget dan sok-sokan gak mau maafin itu, dia sampe bela-belain naik motor ke Semarang, dari Jogja, malem-malem dong. Sampe Semarang dia sms, udah nyampe depan rumah saya. tapi saya gak mau bukain karena masih marah, tega ya… Habis itu entah malemnya dia tidur di mana, saya gak sms dia sama sekali karena dalam hati kecil saya juga merasa bersalah. Besok paginya, dia masih hidup. masih di Semarang. dia dateng lagi ke rumah untuk mengulangi permintaan maaf kemarin. Tanpa basa-basi langsung saya maafkan karena memang dalam hati saya sudah memaafkan dia sejak sebelum dia pergi dari Jogja, tapi apa boleh buat dia terlanjur berangkat. Tanpa mandi tanpa persiapan apapun, dia datang ke rumah dengan muka kucel dan rambut berantakan. Hahaha. Dia kemudian minta sama aku untuk diambilkan gitar, yaudah saya ambilkan ditar saya di kamar, trus dia nyanyiin satu lagu buat saya. Lagunya Samsons kalau gak salah. Dia kan waktu itu lagi bangga-bangganya karena dia mendeklarasikan bahwa suaranya mirip Bams Samsons. Baiklaaaahh.

Ada lagi hal kedua yang mengharukan saya sampe sekarang dan masih bikin nangis kalo diinget-inget. Sore-sore sepulang saya dari kantor dia datang ke kos saya tapi justru saya memutuskan untuk meninggalkannya saat itu juga. Itu adalah dia setulus-tulusnya dia yang pernah saya lihat. Seorang Ibnu Pradipta adalah seorang yang sangat tulus. Saat itu dan sampai sekarang. Saya juga menyadari, sudah banyak hal-hal yang kami lalui. Segala macam masalah pernah kami lalui, tapi masih banyak juga di depan sana rintangan yang harus kami hadapi. Dia, seseorang yang membuat saya belajar banyak hal, kesabaran, keikhlasan, ketulusan, dan masih banyak lagi.

Sekarang dia sedang menyelesaikan skripsinya yang super sekali itu. Saya memang tidak bisa menyumbang ide karena bidang ilmu saya dan dia berbeda.

Buat dia:

Aku doain semoga skripsinya lancar, bisa cepat selesai, jadi gak lama-lama. Segeralah tinggalkan UGM tinggalkan Jogja dan cari kerjaan yang bagus ya Dear :* we’ll go on our different ways to one same direction…

Happy Birthday Dear You!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 16, 2012 by in Piece of Life.
%d bloggers like this: