follow, live, choose

my dreams, my life, my future

Sekelumit Cerita tentang Ibu dan Anak

Suatu sore.

Seorang ibu sedang memandikan anaknya di suatu tempat wudhu di sebuah masjid. Anak itu senang sekali bermain air yang mengucur di seluruh tubuhnya. Ibu itu sedang di dalam kamar kecil dekat tempat wudhu, mencuci baju anaknya yang mungkin sudah beberapa hari tidak dicuci dan kotor terkena debu di luar. Saya menyadari ibu dan anak ini sedang melakukan perjalanan jauh karena saya melihat seonggok kain kusam di tepi tiang masjid yang ternyata adalah sebuah tas berisi barang bawaan yang entah apa, setelah saya sedikit bercakap-cakap dengan anak kecil ini. Umurnya kira-kira tiga tahun, tetapi bicaranya sudah sangat lancar. Perempuan. Dia tidak imut, tidak cantik, tidak putih, tidak gendut ataupun chubby, tapi dia sangat lucu, karena dia suka berlalri-larian sambil bernyanyi seolah tidak ada beban dalam hidupnya.

Saya: Adek namanya siapa?

Adek: Anisa…

Saya: Wah, namanya bagus banget… Rumahnya dimana sayang?

Adek: Di sana… (sambil mengacungkan tangannya ke arah yang entah mana untuk menunjukkan bahwa rumahnya sangat jauh, dan seketika itu saya menyadari bahwa menanyakan letak rumah adalah sesuatu yang sangat salah jika dilakukan kepada seorang anak berumur 3 tahun)

Saya: Adek ga kedinginan mandi di sini?

Anisa: Enggak… (sambil menggeleng)

Saya: Pinter yaa… Sekarang adek udah bersih, wangi, cantik. Tapi udah makan belum nii?

Anisa: Udah… (sambil tersenyum dan berlenggak-lenggok kemayu dengan handuk menyelimuti punggungnya)

Saya: Makan apa sayang?

Anisa: Nasi padang (sambil tertawa riang menunjukkan giginya)

Saya sempat tersentuh ketika melihat dia seperti senang sekali menunjukkan bahwa dia sudah makan nasi padang tadi siang (atau paginya).

Lalu perhatian saya teralihkan oleh ibunya yang sekarang sibuk menata pakaian basah itu ke dalam tas tadi.

Saya: Ibu dari mana? (nah ini baru tepat menanyakan asal atau rumah kepada ibu-ibu, bukan anak kecil. hehe)

Ibu: Saya dari Kulon progo, Mbak…

Saya lupa menanyakan Kulon Progo nya mana? Desa apa, dukuh apa, kenal Pak Lurah Banjarasri ga? Itu ga penting sih, makanya untunglah saya lupa.

Saya: Oooh Kulon progo, mau ke mana bu?

Ibu: Ke Sardjito mbak.

Saya: Siapa yang sakit bu?

Ibu: Saya mbak. (mungkin sambil membatin mbak ini cerewet dan kepo amat ya)

Saya: Wah, ibu yang sakit, sakit apa?

Ibu: Sakit perut mbak, dari dua hari lalu perut saya sering nyeri-nyeri…

Dari raut mukanya, ibu ini memang sedang sakit tapi entah karena alasan apa, saya melihat dari sorot mata ibu ini, dia ga pengen melanjutkan perjalanan ke Sardjito lagi. entah apapun alasannya.

Saya: Sardjito udah deket lho bu..tinggal jalan ke sana.. (saya menunjukkan arah ke sardjito dan sengaja tidak menawarkan untuk mengantarkan ke sana karena saat itu saya sedang tidak membawa kendaraan)

Ibu: Iya saya tau mbak,. Tapi saya mau pulang saja ini.

Nah dari tatapan berikutnya, saya bisa melihat kalo ibu ini mungkin sudah kehabisan bekal atau uang untuk memeriksakan sakit di perutnya ke dokter atau sekedar untuk melanjutkan perjalanan. Sementara itu, Anisa sedang berlarian di sekitar masjid sambil tertawa-tawa dan teriak-teriak, “assalamualaikuuuummm” dan sesekali melantunkan Al-Fatihah dan hafalan beberapa surat pendek. Al-Ikhlas, An-Nas, Al-Asr. Subhanallah, anak sekecil ini sudah hafal bermacam-macam surat pendek. Dia terlihat gembira menemukan tempat baru baginya, dan sesekali dia manggil-manggil saya dengan senyum innocent-nya “mbaak.. mbaakk..” dan saya tahu dia senang mendapatkan teman baru.

Atas jawaban ibu yang tidak jadi melanjutkan perjalanan itu, saya memang tidak menanyakan “kenapa”. karena saya takut menyinggung perasaannya. Terlebih saya tidak punya banyak waktu saat itu untuk mencoba terhanyut dengan cerita kehidupannya. Biarkan ibu ini melanjutkan dunianya, pikir saya. Setelah itu saya beralih ke Anisa yang saat itu mendekati saya dan sepertinya masih pengen bermain-main dengan saya.

Saya: Sayang, ayok sana ke ibu dulu, ganti baju…

Anisa: (diam saja)

Ibu: Bajunya basah mbak, udah ga punya ganti lagi…

Anisa: Ibu… maem… maem….

Saya: (rupanya anak ini udah kelaperan lagi)

Ibu: Iya sayang, nanti lagi ya.. uangnya habis…

Saya: (cuma ternganga. Kasihan bener adek ini, lapar, badannya cuma berbalut handuk, dan mungkin akan digendong oleh ibunya selama perjalanan yang memakan waktu… gatau berapa lama. Lebih kasihan lagi ibunya yang terlihat tidak terawat karena memikirkan beban dan tanggung jawab yang besar sebagai seorang ibu)

Saya: Bu, saya duluan ya… Mau pulang dulu. (akhirnya saya memutuskan untuk berpamitan)

Ibu: Iya mbak,… Anisa, ayo salim dulu sama mbak. (ibu berbicara sambil memasang kerudung di kepalanya lalu melipat mukena)

Lalu Anisa menjabat dan mencium tangan saya. Lama gak dia lepaskan. Saya tau anak ini pasti butuh teman. Gak tega saya meninggalkan masjid ini. Dengan sangat menyesal saya melangkahkan kaki menuju rapat informal penting yang sempat saya tinggalkan untuk beberapa menit. Sejenak merasa terlalu egois untuk mengutamakan acara saya daripada menemani Anisa bermain-main. Tapi, setidaknya ada tiga pelajaran berharga yang saya dapat setelah meninggalkan tempat ini.

Bahwa rasa syukur itu penting.

Bahwa tidak semua orang itu bisa makan ketika lapar.

Bahwa keimanan dan ketakwaan seseorang tidak ditentukan oleh tinggi-rendahnya jabatan atau status sosial.

Yogyakarta, selepas ashar.

The Caretaker Wannabe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 17, 2012 by in Piece of Life.
%d bloggers like this: