follow, live, choose

my dreams, my life, my future

Akuntansi: Pentingkah IFRS? (Peran IFRS untuk Mengurangi Earnings Management)

ifrs-b1Tulisan saya kali ini membahas berbagai literatur tentang adopsi IFRS di berbagai negara dan dampaknya dalam meningkatkan kualitas akuntansi. Bagaimana cara mengukur kualitas akuntansi? Kualitas akuntansi diukur menggunakan indikator earnings management yang dihitung berdasarkan discretionary accrual. Secara umum, implementasi IFRS di negara-negara di dunia diharapkan memiliki dampak yang relatif sama, yaitu meningkatnya kualitas informasi laporan keuangan yang ditandai dengan menurunnya tingkat earnings management. Namun, ada pula penelitian yang membuktikan bahwa kenyataannya tidak selalu demikian.

International Financial Reporting Standards (IFRS) merupakan standar penyusunan pelaporan keuangan yang didorong untuk dilaksanakan oleh banyak negara di dunia dalam rangka konvergensi menuju terwujudnya penggunaan satu standar yang sama. Efektif pada tahun 2011, IFRS telah diadopsi oleh beberapa negara, seperti Canada, Australia, dan negara-negara Eropa. Bahkan saat ini, negara yang dahulu enggan melakukan konvergensi seperti Amerika Serikat pun diharapkan telah mengadopsi IFRS secepatnya tahun 2014. Penggunaan IFRS ini juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas akuntansi. IFRS diterbitkan oleh International Accounting Standards Board (IASB). Sejak tahun 2005, banyak negara mulai diwajibkan untuk mengadopsi IFRS. Salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan transparansi dan comparability dari pelaporan keuangan di berbagai negara.

Diadopsinya IFRS oleh berbagai negara bukan tanpa menuai banyak kritik dan persoalan. Dengan adanya standar baru yang berbasis prinsip, dimana penilaian aset didasarkan pada fair value, tentu hal ini tidak akan mudah dilakukan mengingat standar yang biasa digunakan oleh negara-negara penganut Generally Accepted Accounting Principles (GAAP) adalah berdasar pada nilai historis. Apakah penggunaan fair value sebagai dasar penilaian aset sesuai IFRS ini akan selaras dengan tujuan didorongnya penggunaan IFRS yaitu meningkatkan transparansi dan kualitas laporan keuangan? Bukan pada saat diluncurkan saja standar ini banyak menuai kritikan. Belakangan ini, muncul perdebatan mengenai IFRS dan konvergensi akuntansi. Pihak yang mendukung IFRS dan konvergensi berpendapat bahwa standar akuntansi global yang satu akan mengurangi asimetri informasi, menurunkan baiya modal, dan meningkatkan aliran modal lintas batas, sedangkan pihak yang tidak mendukung berargumen bahwa karakteristik lingkungan bisnis dan rerangka institusional menentukan bentuk dan isi standar akuntansi. Dengan demikian, standar akuntansi di negara yang berbeda tidak perlu seragam dan penggunaan IFRS tidak serta merta meningkatkan kualitas akuntansi. Dengan semakin banyaknya perusahaan dan negara yang telah mengadopsi IFRS untuk menggantikan standar nasionalnya, maka perkembangan ekonomi global yang terjadi dengan cepat dan integrasi pasar modal di seluruh dunia merupakan momen yang tepat unntuk mengevaluasi dampak dari IFRS dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas akuntansi di kancah internasional.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, IFRS dipercaya sebagai standar yang mampu meningkatkan kualitas pelaporan keuangan. Alasannya adalah bahwa IFRS menghilangkan alternatif-alternatif akuntansi yang diperbolehkan dan mungkin dilakukan oleh manajemen. IFRS diharapkan dapat membatasi management discretion atau keleluasaan manajemen untuk memanipulasi laba. Namun, apakah hal tersebut sepenuhnya benar? IFRS mendukung conformity di seluruh dunia serta meningkatkan comparability, understandability, dan penyajian data keuangan. Akan tetapi, IFRS memiliki beberapa keterbatasan dan mungkin mengundang perhatian khusus ketika kita mengingat tentang earnings management. Meskipun IFRS dianggap mampu menghilangkan alternatif-alternatif bagi manajemen untuk memanipulasi laba, perlu diingat bahwa IFRS mengusung principles based atau berdasarkan pada prinsip, sedangkan GAAP adalah rules based atau berdasarkan aturan, yang memungkinkan orang untuk menerapkan prosedur akuntansi secara benar sesuai dengan aturan-aturan yang dijabarkan. Principles based lebih bersifat subjektif dan dapat memicu timbulnya masalah pada pelaporan keuangan. Misalnya saja ketika suatu aset dinilai oleh seorang appraiser seharga X, tetapi bisa jadi berbeda ketika dinilai oleh appraiser lain. Dengan adanya kemungkinan ini, auditor akan meminta lebih banyak informasi dan judgment yang tidak mustahil pula akan menimbulkan pertanyaan pada laporan keuangan auditan. Dengan ditinggalkannya prinsip historical cost atau nilai historis pada IFRS ini, manajemen akan dengan mudah merencanakan earnings dengan tujuan memperoleh laba yang diharapkan, dan tidak berfokus pada ketepatan/kebenaran informasi akuntansi.

Saya akan membahas sekilas mengenai sejauh mana IFRS diadopsi oleh negara-negara di dunia dan bagaimana dampaknya terhadap pelaporan keuangan yang sebelumnya dianggap akan meningkatkan kualitas, transparansi, dan comparability, tetapi di sisi lain memberikan celah bagi manajemen untuk memanfaatkan subjektivitas dari principle based untuk mengatur laba.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai peran IFRS dalam kaitannya dengan earnings management, terlebih dahulu akan dibahas mengenai teori dari earnings management. Earnings management terjadi ketika manajer menggunakan judgment dalam pelaporan keuangan dan dalam menyusun transaksi untuk mengubah laporan keuangan yang dapat digunakan untuk menyesatkan para stakeholders mengenai kinerja ekonomik yang melatar belakangi perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil dari perjanjian yang tergantung pada angka-angka akuntansi yang dilaporkan (Healy dan Wahlen, 1999).

Dechow dan Skinner (2000) melakukan penelitian mengenai kemungkinan terjadinya intervensi pihak manajemen dalam proses pembuatan laporan keuangan. Penelitian  tersebut  menghasilkan kesimpulan bahwa campur tangan manajemen dalam pembuatan laporan keuangan tidak saja melalui estimasi dan metode akuntansi yang digunakan, tetapi juga melalui keputusan operasional. Earnings management  dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Beberapa cara  yang biasa dilakukan oleh manajer antara lain mempercepat penjualan, mengubah skedul pengiriman barang, memperlambat pengeluaran untuk riset dan pengembangan, serta pengeluaran untuk pemeliharaan.

Para praktisi dan regulator memiliki persepsi yang berbeda mengenai earnings management  (Dechow dan Skinner, 2000). Seringkali  earnings management  memiliki bentuk yang sulit dibedakan dari pilihan accrual accounting yang sesuai. Para manajer memiliki fleksibilitas untuk memilih beberapa altematif dalam mencatat transaksi sekaligus memilih opsi-opsi yang ada dalam perlakuan akuntansi. Fleksibilitas ini digunakan oleh manajemen perusahaan untuk mengelola laba.  Manajemen dalam hal ini dikatakan memiliki sifat oportunis dalam menjalankan pengelolaan perusahaan demi mementingkan pribadinya. Perilaku oportunis ini direflesikan dengan melakukan rekayasa keuangan dengan menerapkan income increasing atau income decreasing decretionary accrual. Di dalam istilah akuntansi, akrual mengacu pada pencatatan adanya dampak keuangan atas transaksi-transaksi suatu entitas dan kejadian serta kondisi lain yang memiliki dampak terhadap kas dalam periode dimana transaksi, kejadian, dan kondisi itu terjadi, bukan periode dimana kas diterima atau dibayarkan oleh entitas (Kusumaningrum, 2010). Pencatatan pendapatan dan biaya mengacu pada konsep akrual, oleh karena itu laba sebagai hasil dari pengurangan biaya terhadap pendapatan tidak terlepas dari konsep akrual. Adanya konsep akrual ini mengakibatkan luasnya berbagai metode dalam pengakuan pendapatan maupun biaya. Jones, et. al (2008) merangkum beberapa metode yang digunakan untuk menghitung discretionary accrual, antara lain:

Jones Model, dikembangkan tahun 1991

TAit       = β0 + β1 (1/ATit-1) + β2 ΔREVit + β3 PPEit + εit

Tait        = total akrual perusahaan

“i”          = selisih antara income before extraordinary items dengan arus kas dari kegiatan operasi untuk tahun t.

ATit       =  aset pada awal tahun

ΔREV    =  perubahan penjualan dari tahun t-1 ke tahun t

PPE        =  gross property, plant, and equipment

Salah satu kelemahan dari model Jones ini adalah bahwa model ini mengasumsikan bahwa tidak terdapat akrual diskresioner yang berasal dari perubahan pendapatan, maka dari itu model ini tidak dapat mendeteksi apabila manajemen laba dilakukan dengan memanipulasi penjualan.

Modified Jones Model

TAit       = β0 + β1 (1/ATit-1) + β2 (ΔREVit – ΔARit) + β3 PPEit + εit

ΔAR  =  perubahan piutang dari tahun t-1 ke tahun t.

Untuk mengidentifikasi adanya perilaku manajemen laba melalui pendapatan penjualan maka jumlah penjualan kredit perusahaan dari formula akrual non-diskresioner dikeluarkan.

Modified Jones with Book to Market Ratio and Cash Flows

TAit       = β0 + β1 (1/ATit-1) + β2 (ΔREVit – ΔARit) + β3 PPEit + β4 BMit + β5 CFOit + εit

BM                    =   nilai buku dari common equity di atas nilai pasar common equity

CFO       =  arus kas dari kegiatan operasi di atas ATt-1

Modified Jones Model with ROA (1) (dikembangkan oleh Kothari, Leone, dan Weasley, 2005)

TAit=β0+β1(1/ATit-1) + β2 (ΔREVit – ΔARit) + β3 PPEit + β4 ROAit + εit

ROAit     =  income before extraordinary items untuk tahun t di atas ATt-1

Modified Jones Model with ROA (2) 

TAit=β0+β1(1/ATit-1)+β2(ΔREVit – ΔARit) + β3 PPEit + β4 ROAit-1 + εit

ROAit    =  income before extraordinary items untuk tahun t-1 di atas ATt-1

Measures Accrual Quality 

ΔWCit   = β0 + β1 CFOit-1 + β2 CFOit + β3 CFOi t+1 + εit

ΔWC      =  perubahan modal kerja dari tahun t-1 ke tahun t

Model McNichols

ΔWCit   = β0 + β1 CFOit-1 + β2 CFOit + β3 CFOi t+1 + β4 REVit + β5 PPEit  +εit

ΔWC      =  perubahan modal kerja dari tahun t-1 ke tahun t

Beneish Model

MIit = -4,840 + 0,920 DSRIit + 0,586 MIit + 0,404 AQIit + 0,8925 GIit 43

MI          =  manipulation index =  kemungkinan manipulasi laba menggunakan standard normal distribution table.

Dengan menggunakan salah satu rumus yang dipilih menggunakan model-model di atas, dapat diketahui nilai residu dari persamaan regresi. Kemudian nilai residu ini dijadikan nilai absolut (mutlak), dan inilah yang dijadikan besaran discretionary accrual, yang kemudian menjadi proxy dari earnings management.

Menurut Healy dan Wahlen (1999), earnings management dilakukan dengan berbagai alasan, antara lain mempengaruhi persepsi pasar saham, meningkatkan kompensasi manajemen, mengurangi kemungkinan pelanggaran perjanjian, dan untuk menghindari intervensi regulasi. Menurut Degeorge, et. al (1999), earnings management  muncul dari suatu permainan pengungkapan informasi yang harus dimainkan oleh eksekutif dan outsiders (non eksekutif).

“Earnings management arises from the game of information disclosure that executives and outsiders must play.”

Maksud kutipan di atas adalah earnings management  muncul sebagai akibat dari adanya  judgments dalam pelaporan keuangan berupa informasi-informasi perusahaan, dimana keputusan pengungkapan informasi tersebut merupakan campur tangan eksekutif dan non ekskutif untuk melaporkan data-data finansial perusahaan. Jiraporn, et. al  (2008) membagi cara pemahaman earnings management  menjadi dua, yaitu earnings management  dapat bersifat opportunistic  dan  beneficialEarnings manegement  dikatakan  beneficial  atau bermanfaat karena meningkatkan nilai informasi laba dengan menyampaikan informasi pribadi perusahaan kepada stockholders (pemegang saham) dan masyarakat. Selain itu, manfaat lain dari earnings management yang dikemukakan dalam penelitian tersebut yaitu mengurangi  agency cost. Sedangkan earnings management  dikatakan sebagai tindakan yang bersifat  opportunistic  apabila insentif manajer dan pemegang saham yang tidak terarah merangsang manajer untuk menggunakan fleksibilitas yang diberikan oleh akuntansi yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum (misal Generally Accepted Accounting Principles atau Prinsip Akuntansi Berterima Umum) guna mengatur laba, sehingga menciptakan distorsi dalam laba yang dilaporkan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Cai, et.al (2008) tentang pengaruh IFRS dan pelaksanaannya dalam earnings management dengan meneliti lebih dari 100.000 perusahaan-tahun di 32 negara dari tahun 2000 sampai tahun 2006, menemukan bahwa earnings management di negara yang mengadopsi IFRS menurun pada tahun-tahun terakhir. Hasil dari penelitian ini juga mengindikasikan bahwa negara dengan pelaksanaan IFRS yang lebih kuat memiliki tingkat earnings management yang lebih rendah. Hasil ini tentu mendukung pendapat pendukung IFRS bahwa dengan diadopsinya IFRS, maka earnings management akan berkurang. Sejalan dengan kesimpulan tersebut, di Eropa juga dilakukan penelitian serupa oleh Chen, et.al (2010) tentang peran IFRS terhadap peningkatan kualitas akuntansi. Penelitian ini menggunakan indikator discretionary accrual untuk mengukur earnings management, dimana earnings management tersebut adalah proxy dari kualitas akuntansi. Semakin rendah earnings management mengindikasikan bahwa akuntansi semakin berkualitas. Menggunakan analisis regresi, penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa negara-negara yang mengadopsi IFRS memiliki angka discretionary accrual yang rendah, yang berarti juga kualitas akuntansinya lebih baik.

Salah satu negara di Eropa yang telah melakukan adopsi IFRS adalah Jerman. Penelitian dilakukan oleh Gassen dan Sellhorn (2006) dengan tiga tujuan: pertama, menganalisis determinan dari penerapan IFRS secara sukarela (voluntary) oleh perusahaan terbuka di Jerman pada periode 1998-2004, ditemukan bahwa ukuran perusahaan, keterbukaan internasional, ketersebaran kepemilikan, dan IPO terakhir adalah faktor penentu yang penting. Kedua, menggunakan determinan-determinan tersebut, ditemukan adanya perbedaan signifikan pada kualitas akuntansi: perusahaan yang mengadopsi IFRS memiliki laba atau earnings yang lebih tetap/persisten, kurang dapat diprediksi, dan lebih konservatif secara kondisional. Ketiga, menganalisis perbedaan asimetri informasi antara perusahaan yang mengadopsi IFRS dengan perusahaan yang menggunakan German GAAP, dan ditemukan bahwa perusahaan yang mengadopsi IFRS mengalami penurunan dalam persebaran penawara. Di sisi lain, perusahaan pengadopsi IFRS cenderung memiliki harga saham yang volatile.

Di negara yang dinilai cukup stabil perekonomiannya meskipun dunia sedang dilanda krisis global seperti Australia, telah diteliti pengaruh dari mandatory IFRS terhadap kualitas akuntansi, dan ditemukan bahwa The mandatory adoption dari IFRS di Australia menghasilkan kualitas akuntansi yang lebih baik. Asumsi yang dibangun dalam penelitian ini adalah Australia negara stabil, tidak terpengaruh krisis ekonomi global, sehingga hasil penelitian dapat menghasilkan kesimpula yang valid tanpa ada pengaruh dari krisis global. Penelitian yang bersampel perusahaan-perusahaan di Australia membandingkan kualitas akuntansi pada saat sebelum mengadopsi IFRS dan setelah mengadopsi IFRS, dan hasilnya diketahui bahwa ternyata kualitas akuntansi lebih tinggi ketika perusahaan mengadopsi IFRS, yang dalam hal ini bersifat mandatory (Elias, 2012).

Sebanyak 654 perusahaan di China diteliti oleh Hong (2008), di masa yang lalu masih menggunakan Chinese GAAP kemudian bertransisi ke IFRS. Penelitian ini menghitung nilai absolut dari discretionary accrual untuk mengukur earnings management yang mencerminkan kualitas laporan keuangan. Di pasar China, laporan keuangan yang mengindikasikan “bad news” lebih informatif ketika disajikan dalam IFRS yang principles based. Dari sini didapatkan informasi bahwa penyajian laporan keuangan menggunakan IFRS membuat informasi perusahaan menjadi lebih berguna. Penelitian lain yang dilakukan oleh Wang (2012) di negara yang sama, justru memberikan bukti yang lemah bahwa IFRS memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas akuntansi. Memang dengan mengimplementasikan IFRS, earnings management menjadi lebih rendah daripada saat China mengimplementasikan Chinese GAAP, tetapi penelitian ini belum memberikan bukti yang cukup untuk mencapai kesimpulan bahwa IFRS memberikan dampak menurunnya earnings management.

Dampak diimplementasikannya IFRS terhadap menurunnya earnings management di negara yang sedang mengembangkan perekonomiannya mungkin tidak dapat ditelusuri secara langsung ketika berbicara tentang stabilitas perekonomian dan politiknya. Negara-negara Eropa dan Australia adalah contoh negara-negara dengan perekonomian dan politik yang cukup stabil dan dampak dari pengadopsian IFRS mungkin tidak dipengaruhi oleh situasi yang ada di negara tersebut. Hal ini bisa berbeda dengan hasil penelitian tentang adopsi IFRS di negara-negara berkembang, misalnya di India. Sebuah penelitian dilakukan oleh Rudra dan Bhattacharjee (2011). Menurut Rudra dan Bhattacharjee (2011), India adalah salah satu negara dengan tingkat earnings management tertinggi di dunia. India yang juga sebagai emerging market, memberikan peluang untuk menguji apakah adpsi standar internasional berhubungan dengan earnings management yang lebih rendah. Meskipun demikian, penelitian ini menghasilkan kesimpulan yang berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya karena ternyata di negara berkembang dimana standar internasional dihadapi, cenderung lebih “mulus” dalam laba jika dibandingkan dengan perusahaan yang tidak mengadopsi IFRS. Kesimpulan ini tentu berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya, yaitu bahwa IFRS dapat meningkatkan kualitas laporan. Temuan ini dapat memberikan saran pada regulator untuk berpikir tentang efetivitas IFRS dalam mengurangi opportunistic earnings management di negara dengan ekonomi berkembang, seperti India khususnya, ketika standar akuntansi di India mengalami perubahan substansial dengan konvergensi IFRS secara bertahap.

Bukti lain terkait adopsi IFRS di negara berkembang ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan Ismail, et. al (2011) pada 4010 observasi di Malaysia dalam kurun waktu tiga tahun sebelum dan tiga tahun setelah adopsi tatanan baru standar akuntansi. Menggunakan proxy berupa abnormal accrual, ditemukan bahwa di negara berkembang seperti Malaysia juga berlaku sama seperti kesimpulan yang didapat oleh penelitian di negara Eropa dan Australia, yaitu bahwa adopsi IFRS mampu meningkatkan kualitas laba yang dilaporkan. Keterbatasan dari penelitian ini, meskipun mampu menggambarkan perbandingan dalam hal implementasi IFRS, beberapa standar di IFRS belum diimplementasikan di Malaysia, sementara sampel yang diteliti merupakan perusahaann yang homogen (perusahaan non-finansial dan bukan perusahaan utility).

Meskipun hasil-hasil penelitian membuktikan bahwa adopsi IFRS berdampak positif terhadap kualitas pelaporan keuangan, apakah selalu demikian? Sebuah penelitian dilakukan oleh Djatec, et.al (2010) pada 15 negara di Asia Pasifik dimana 7 di antaranya merupakan negara yang dikarakteristikkan sebagai infrastruktur institusional yang market supportive (Australia, India, Jepang, Hong Kong, Malaysia, Singapura, dan Taiwan), sementara 8 lainnya merupakan negara dengan institusi non-market supportive infrastructure (China, Indonesia, Korea, Selandia Baru, Pakistan, Filipina, Sri Lanka, dan Thailand). Menggunakan hipotesis nol, pengujian dilakukan dengan one-tailed test untuk menguji apakah terdapat perbedaan dalam kualitas informasi publik dan privat di antara negara yang memiliki dukungan yang tinggi ataupun rendah pada pasar saham.

Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa kualitas dari private information lebih tinggi pada negara non-market supportive, dan kualitas informasi publik (umum) lebih tinggi untuk market supportive infrastructure. Dengan kata lain, jika kita mengkontekskan IFRS pada pelaporan akuntansi yang di-release di pasar saham dan informasinya dapat digunakan secara luas oleh pihak yang berkepentingan, IFRS lebih memberikan manfaat pada negara yang memiliki infrastruktur institusional yang mendukung pasar daripada negara yang infrastrukturnya tidak mendukung pasar.

Setelah banyak dibahas mengenai pengaruh IFRS terhadap earnings management di negara-negara Eropa, Australia, dan Asia, timbul pertanyaan bagaimanakah adopsi IFRS di Afrika? Apakah dengan diimplementasikannya IFRS di Afrika akan menghasilkan output yang sama dengan negara-negara di benua lain? Salah satu contoh adalah negara Kenya. Kenya, seperti banyak negara berkembang di dunia, memiliki karakteristik institusi yang lemah dan ekonomi yang tidak stabil, serta lingkungan politik yang tidak terlalu kondusif untuk asimilasi IFRS. Meskipun demikian, banyak negara dan perusahaan telah mengadopsi IFRS, dan memiliki kebutuhan yang besar untuk mengevaluasi dampaknya. Kritik terhadap IFRS di negara-negara berkembang ini berargumen bahwa tidak ada bukti yang konklusif bahwa standar berkontribusi pada kualitas akuntansi. Penelitian yang dilakukan di Kenya oleh Outa (2011) membandingkan kualitas akuntansi dalam pre dan post periode adopsi dimana kedua era tersebut memiliki garis batas yang jelas. Setiap perusahaan bertindak sesuai kontrol mereka masing-masing dengan mencocokkan data pada pre dan post untuk menjamin kondisi yang sama untuk pengukuran. Salah satu hal yang sedikit mengacaukan penelitian ini adalah efek lingkungan makroekonomika dan politik yang dihapus karena semua perusahaan dimaksudkan untuk memiliki lingkungan ekonomika dan kondisi pemerintahan yang sama.

Penelitian-penelitian di atas rata-rata mengaitkan kualitas pelaporan akuntansi dengan rendahnya earnings management. Discretionary accrual yang merupakan proxy dari earnings management dan earnings management menjadi indikator rendahnya kualitas akuntansi. Kebijakan manajemen ketika mengimplementasikan IFRS cenderung lebih berhati-hati atau konservatif, hal ini dapat dilihat dari discretionary accrual yang lebih rendah ketika mengimplementasikan IFRS.

Kontribusi standar yang diimplementasikan oleh suatu negara adalah memberikan dasar yang tepat kepada pembuat laporan akuntansi untuk menggunakan suatu metode pengukuran, pengakuan, dan realisasi suatu transaksi yang nantinya dilaporkan di laporan keuangan. Adanya pilihan-pilihan metode tersebut memungkinkan pembuat laporan keuangan untuk menggunakannya sesuai dengan kebijakan manajemen. Standar dibuat untuk mengakomodasi terutama penyusun laporan keuangan, dan sebagai petunjuk bagi pengguna laporan keuangan. Jika standar yang baik adalah standar yang mampu memberikan prinsip yang sama bagi penyusun laporan keuangan, dan mampu menciptakan kualitas akuntansi yang lebih tinggi, maka di satu sisi standar tersebut tergolonng standar yang bagus. Namun, perlu diingat bahwa laporan keuangan memerlukan audit untuk memastikan bahwa laporan keuangan tersebut wajar. Apakah kualitas pelaporan keuangan yang tinggi akan dapat memberikan informasi yang juga berkualitas tinggi bagi auditor? Meskipun hasil penelitian sebelumnya mengatakan adopsi IFRS memberikan dampak meningkatnya kualitas informasi keuangan, dengan sifat alami IFRS yang sibjektif tetap memerlukan biaya besar misalnya untuk appraiser, analis laporan keuangan, dan sebagainya. Tidak hanya audit saja yang memerlukan biaya besar, tetapi juga pengguna lain misalnya inverstor dan kreditur. Mereka akan mengeluarkan biaya lebih banyak ketika akan melakukan investasi karena investor dan kreditur, seperti halnya auditor, merupakan pihak luar yang bisa jadi memiliki pandangan prinsipil yang sama dengan perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan, tetapi menaksir/menilai transaksi dengan nilai pasar yang berbeda.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, tingginya kualitas akuntansi dipengaruhi oleh faktor implementasi standar akuntansi. Meskipun standar akuntansi dapat mengendalikan earnings management dalam beberapa kasus, itu tidak selalu berarti bahwa negara dengan standar akuntansi yang berkualitas tinggi juga akan memiliki pelaporan informasi keuangan yang juga berkualitas tinggi dan juga earnings management yang rendah karena banyak faktor yang mempengaruhi kualitas pelaporan akuntansi selain standar akuntansi yang baik, antara lain penegakan hukum, perlindungan investor, dapat menentukan kualitas dari informasi keuangan yang dilaporkan.

Sejauh ini, hasil penelitian yang dilakukan di berbagai negara masih mendukung dan memberikan bukti bahwa implementasi IFRS mampu meningkatkan kualitas akuntansi, baik di negara berkembang maupun negara maju. Untuk negara berkembang, hasil penelitian-penelitian di atas memberikan manfaat yang signifikan kepada pembuat standar lokal, begitu pula di negara berkembang yang memiliki pasar modal dan karakteristik institusional yang serupa. Pada akhirnya, peningkatan kualitas akuntansi melalui penggunaan indikator earnings management perlu diteliti lebih lanjut lagi guna memberikan bukti empiris bahwa adopsi IFRS di suatu negara merupakan faktor yang berperan penting di negara tersebut.

REFERENSI

Cai, Lei; Asheq Rahman; Stephen Courtenay. (2008). “The Effect of IFRS and its Enforcement on Earnings Management: An International Comparison”. Massey University. Available at: http://ssrn.com/abstract=1473571

Chen, Huifa; Qing Liang Tang; Yihong Jiang; Zhijun Lin. (2010). “The Role of International Financial Reporting Standards in Accounting Quality: Evidence from the European Union”. Journal of International Financial Management & Accounting, Volume 21 Issue 3.

Dechow, Patricia M; Douglas J. Skinner. (2000). “Earnings Management: Reconciling the Views of Accounting Academics, Practitioners, and Regulators”.  American Accounting Association.  Accounting Horizons (June). Vol.14. No.2, pp.235-250.

Degeorge, Francois; Jayendu Patel; Richard Zeckhauser. (1999). “Earnings Management to Exceed Thresholds”. Journal of Business, 1999, vol. 72, no. 1

Djatec, Arsen; Grace Geo; Robert Sarikas; David Senteney. (2010). “An Investigation of The Comparative Impact of Degree of Implementation of IFRS Upon The Public and Private Information Quality of Asia Pacific Country Firms”. International Business & Economics Research Journal Vol. 9; No. 3.

Elias, Nabil. (2012). “The Impact of Mandatory IFRS Adoption onAccounting Quality: Evidence from Australia”. Journal of Interbational Accounting Research Vol. 11 No. 1, pp. 147-154.

Gassen, Joachim; Thorsten Sellhorn. (2006). “Applying IFRS in Germany –  Determinants and Consequences”. Forthcoming in: Betriebswirtschaftliche Forschung und Praxis, 58 (4), 2006.

Healy, Paul M and J.M. Wahlen. (1999). “A Review of The Earnings Management Literature and  Its Implications for Standard Setting”. Accounting Horizons (December), p: 368.

Hong, Yongtao. (2008). “Do Principles-based Accounting Standards Matter? Evidence from the Adoption of IFRS in China”. Thesis. Dexel University.

Ismail, Wan Adibah Wan; Tony van Zijl; Keitha Dunstan. (2011). “Earnings Quality and The Adoption of IFRS-based Accounting Standards: Evidence from an Emerging Market”. School of Accounting and Commercial Law. Victoria University of Wellington, New Zealand.

Jiraporn, Pornsit; Gary Miller;  Soon Suk Yoon; Young Sang Kim.  (2008). “Is Earnings Management Opportunistic or Beneficial? An Agency Theory Perspective. International Review of Financial Analysis”, 2008, Vol 17, 622-634. Available at SSRN: http://ssrn.com/abstract=917941

Jones, Keith L; Gopal V.K; Kevin D. Melendrez. (2008). “Do Models of Discretionary Accruals Detect Actual Cases of Fraudulent and Restated Earnings? An Empirical Analysis”.  Contemporary Accounting Research Vol.25 No.2, pp. 499-531.

Kusumaningrum, Armanita. (2010). “Pengaruh Kondisi  Financial Disstress terhadap Manajemen Laba”. Skripsi. Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia.

Outa, Erick Rading. (2011). “The Impact of International Financial Reporting Standards (IFRS) Adoption on the Accounting Quality of Listed Companies in Kenya”. International Journal of Accounting and Financial Reporting Vol.  1, No.  1.

Peter, Harris. (2012). “A Case Study: U.S. GAAP Converson to IFRS with an Analysis on Earnings Management”. Internal Auditing. Jul/Aug 2012; 27, 4; pg. 3

Rudra, Titas; CA. Dipanjan Bhattacharjee. (2012). “Does IFRs Influence Earnings Management? Evidence from India”. Journal of Management Research 2012, Vol. 4, No. 1: E7.

Wang, Ying; Michael Campbell. (2012). “Earnings Management Comparison: IFRS vs. China GAAP”. Montana State University-Billings, Billings, MT, USA. International Management Review Vol. 8 No. 1.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 9, 2013 by in Just Thinking.
%d bloggers like this: