follow, live, choose

my dreams, my life, my future

Gak Kelihatan Cantik karena Helm Full Face?

Hai pembaca sekalian! (kalo ada yang baca :D)

Adakah dari kalian yang pernah berpikir bahwa helm full face mengurangi kadar ketampanan atau kecantikan seseorang? Atau justru sebaliknya, memakai helm full face justru menambah kadar kecantikan, kegantengan, dan kekerenan seseorang?

Buat yang belum tau helm full face itu seperti apa, helm full face itu helm yang menutup seluruh muka kecuali mata dan batang hidung bagian atas. Kebanyakan cewek (berdasarkan pengalaman pribadi, teman, dan beberapa kali search di internet, rata-rata mereka ogah memakai helm full face karena beberapa alasan:

1. Sumpek.

Karena helm full face ini menutupi lubang hidung, ya jelas kalau tidak biasa memakainya akan terasa sumpek. Udara tidak akan dengan bebasnya masuk ke hidung kita saat di perjalanan. Apalagi kalau kaca helm ditutup, udah berasa di kapsul yang tidak ada udara (okay, ini lebay).

2. Menutupi Kecantikan

Karena helm ini menutup sebagian wajah, jadi orang yang melihat kita tidak secara langsung mengenali wajah kita, terlebih lagi melihat kita itu tampan/cantik. Bagi yang merasa cantik dan sengaja pengen memamerkan kecantikannya alias mejeng, jelas helm ini tidak cocok. Apalagi, salah seorang teman saya bilang kalo helm model ini bisa bikin bedak luntur. Jelas dengan pernyataan seperti ini saya cuma tertawa karena tidak pernah mengalami bedak luntur, lha wong gak pernah pakai bedak :p

3. Berat

Tempurung helm ini memang relatif lebih berat dibanding helm-helm biasanya (helm half-face/helm yang cuma sampai kuping atau helm batok, helm open face/yang biasa kita beli dengan merk Hiu, BMC, yang paling banyak dipakai), terutama sangat terasa ketika menempuh perjalanan jauh. Dengan size nya yang lebih besar dan berat, wanita cenderung ogah memakainya.

4. Merusak Tatanan Kerudung

Nah, ini nih yang biasanya dijadikan alasan oleh wanita-wanita berkerudung. Pakai helm full face bikin kerudung morat-marit. Kan helm full face itu tidak bisa diposisikan agak naik di bagian muka, jadi kalau mbak2 yang pakai kerudungnya model ada “topi”nya, memang susah, pasti mleat-mleot. Terlebih lagi kalau mbak2 modis jaman sekarang kan kalau pakai kerudung pasti ada “konde”nya. Nah konde ini besar kemungkinan akan rusak saat memasukkan kepala ke helm full face.

5. Susah Makan/Minum

Kalau di jalan ada makanan enak, misal singkong goreng atau keripik, kita tidak bisa memakannya tanpa melepas helm. Selain itu, kita juga tidak bisa makan atau ngerokok sambil naik motor.

Oke, dari kelima alasan umum di atas, saya punya loh, bantahan atau sanggahan yang tentunya relevan karena saya sudah membuktikan sendiri bahwa kelima pernyataan di atas itu buat saya tidak ada apa-apanya kalau  bicara soal kecantikan atau ketampanan yang sesungguhnya.

Sumpek?

Penggunaan helm full face memang mengurangi kadar udara atau angin yang masuk ke hidung dan mengenai muka. Tapi bayangkan, berapa banyak angin yang melewati muka ketika memakai helm terbuka/open face dan berapa banyak debu yang dibawa angin ke pori-pori muka selama di perjalanan? hal ini bisa diatasi dengan memakai masker atau slayer. Lalu apa memakai masker tidak lebih sumpek? lebih ribet, iya.

Menutupi Kecantikan?

Oke, memang helm model gini menutupi wajah cantik dan gantengmu, tapi kalau wajah dibiarkan terbuka selama naik motor, jangan mengeluh kalau tumbuh komedo atau jerawat. Malah ga cantik atau ganteng lagi kan? Terus kalau (bukan doain ya) suatu saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan misalnya jatuh dan muka kebentur aspal atau kendaraan, gigi patah (pengalaman pribadi), atau tulang rahang retak, masih tetap cantik? Dan mau seperti apapun wajah kamu dalam keadaan normal, kalau cantik tetep kelihatan dari mata kok. Dan definisi cantik itu semestinya tidak hanya dipandang dari segi muka. Buat saya, orang cantik adalah orang yang cerdas, misalnya yang lebih memikirkan keselamatan daripada sekedar mejeng. Soal bedak luntur? Solusinya, pakai bedak yang berkualitas yang gak gampang luntur kena busa dikit doang. Atau bawa bedak yang ada kacanya, taruh kantong atau tas tangan seperti kalian bawa hape ke mana-mana. Kalau udah sampai tujuan, begitu lepas helm, keluarin bedak trus retouch bentar ga ada salahnya. Asal jangan kelamaan kalau gak mau dibilang “menthel” (kemayu, bhs Jawa).

Berat

Kalau masalah berat, sebenernya no comment deh, memang lebih berat. Tapi so far saya nyaman2 aja pakai helm model ini. Kenceng, dan kalau buat cewek, mending cari yang ukurannya lebih kecil, misal M, jangan yang L kalau gak mau kebesaran.

Merusak Tatanan Kerudung

Nah, masalah “konde” buat yang berjilbab gahol, memang belum terpecahkan sih. Saya tadinya pakai helm open face jadi konde gak rusak. Setelah memutuskan pakai helm full face, kondenya saya kecilin, kuncir biasa aja yang penting rambut di dalam kerudung gak berantakan. Lalu pakai dalaman kerudungnya bukan yang topi, tapi yang model arab (ngepres dahi) supaya gak mleot-mleot waktu pakai helm.

Susah Makan/Minum

Solusinya cuma satu: tidak usah mampir2 buat beli makanan atau minuman kalau males melepas helm. Mau ngerokok? Boleh, silakan, tapi nanti kalau udah sampe tempat tujuan aja, jangan di jalan. Lha meh ngudud opo meh nyetir motor? Pertimbangkan lagi soal keselamatan🙂

So, apa salahnya mengutamakan keselamatan di atas hal-hal yang semestinya bisa kita hindari? Buat saya, yang baru saja berpindah haluan dari helm open face retro unyu-unyu ke helm full face bertandatangan Lorenzo, meskipun motor tetep matik, sejauh ini merasakan banyak manfaat.

-lebih percaya diri, karena dengan memakai helm full face saya jadi kelihatan kayak cewek sangar😀 LOL padahal motore yo matik, pink sisan 😛

-kalau pakai helm ini, plus celana jeans+sepatu kats, jaket, tas ransel, udah ga kelihatan kayak cewek lagi. Lebih aman kalau di jalan yang agak-agak sepi.

-gak parno lagi. Setelah kecelakaan yang menatahkan seperempat gigi depan saya, saya jadi parno (paranoid) ke mana-mana pakai motor. Jalan jadi was-was dan terbayang-bayang terus gimana saya jatuh dan mencium aspal. Setelah pakai helm ini, trauma itu sedikit2 hilang. Apalagi kalau ingat kecelakaan sewaktu saya dibonceng di daerah Cangkringan, jari tangan teman saya yang di depan itutulangnya retak dan luka berdarah-darah. Helm teman yang ngeboncengin saya itu sampai rusak-rusak padahal full face. Dia bilang: “untung saya pakai helm full face, kalau nggak, entah kayak apa jadinya muka saya”, fiuhhhh….

Masih berani menggadaikan keselamatan dengan kecantikan/ketampanan yang bisa dilihat saat naik motor?

Maaf kalau tulisan saya ini terkesan provokatif. Tapi saya benar-benar mendukung kalau salah satu atau beberapa bahkan semua dari pembaca tulisan ini yang tadinya memakai helm terbuka memutuskan untuk memakai helm full face sekarang juga🙂 buat yang sudah memakai full face, pertahankan!

Seberapapun hati-hatinya naik motor, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Bisa saja kita sudah hati-hati, tapi pengendara lain yang ngawur terus kita jadi korban, na’udzubillahiminzalik. Jangan sampai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 17, 2013 by in Just Saying.
%d bloggers like this: