follow, live, choose

my dreams, my life, my future

“DREAM ON, MAN!”

Image

Sekilas judul di atas mengingatkan saya tentang dua hal: pertama, iklan sebuah merk susu berprotein tinggi untuk pria-pria fitness. “Cuma modal latihan, mau gedein otot? Dream on, man!” kata salah satu bintang iklannya. Dari kalimat tersebut, kita bisa tahu bahwa orang yang sedang laltihan itu sebenarnya punya keinginan untuk memperbesar ototnya, tetapi yang dia lakukan hanya latihan saja, tidak minum susu. Ketika keinginan tidak diimbangi dengan cara yang tepat untuk mencapainya, dream on, man! Ya (cuma) mimpi (saja)! Tapi tulisan kali ini akan lebih menekankan pada hal positif dari mimpi. Dream on, man! Yang berarti: “Bermimpilah!” dalam konteks yang positif.

Kedua, judul ini mengingatkan tentang sebuah aplikasi yang diluncurkan oleh AppStore (Apple) untuk iPhone yang berfungsi untuk menstimulasi kita bermimpi sesuai dengan apa yang kita atur pada aplikasi tersebut. Dengan mengatur latar tempat seperti Tokyo, LA atau Menara Eiffel dan memilih latar musik yang bertema garden, party, atau downtown, kita bisa mengalami mimpi seperti yang kita harapkan. Tulisan ini justru menceritakan sebaliknya, yaitu tentang mimpi yang justru menuntun kita menemukan cara-cara untuk mencapainya.

Mimpi adalah masa depan kita. Masa depan merupakan cerminan dari apa yang kita perbuat saat ini. Ibarat padi, siapa yang menanam dialah yang akan menuai. Siapa yang menanam kerja keras dan usaha saat ini, dialah yang akan menuai hasil yang indah di masa yang akan datang. Pencapaian yang kita dapatkan sangat tergantung pada apa yang kita perbuat saat ini. Langkah-langkah yang kita tempuh menjadi begitu pentingnya untuk menapaki harapan-harapan yang ingin kita raih di kemudian hari. Artinya, segala sesuatu hal kecil pun akan sangat menentukan masa depan kita.

Seperti yang kita tahu, hidup adalah pilihan tentang jalan mana yang akan kita tempuh, seperti lagu Samuel, salah satu juara AFI Junior…”Hidupmu indah bila kau tahu jalan mana yang benar. Harapan ada, harapan ada jika kau percaya..” Apa yang dinyanyikan Samuel tersebut benar. Hidup akan menjadi indah jika sekarang kita memilih langkah yang benar, yang menjadi pilihan kita berdasarkan keyakinan. Namun, hidup tidak semudah menapakkan kaki atau menarik gas sepeda motor ketika ada banyak simpangan di depan mata. Pakai kaki atau sepeda motor, kita masih bisa kembali lagi ke tempat semula seandainya ternyata kita kesasar atau salah tujuan. Dalam hidup, tidak bisa. Lalu apa jadinya jika jalan hidup yang kita pilih itu salah? Sekilas perumpamaan ini terlalu ekstrim, tetapi sebenarnya tidak. Kita perlu melihat lagi diri kita secara lebih mendalam. Seperti lirik lagu Ungu ft. Iis Dahllia, “Pernahkah kau merasa hidupmu hampa, pernahkah kau merasa hidupmu kosong…” Nah, inilah waktunya kita berintrospeksi. Kalau kamu merasa hidupmu tidak hampa dan kosong, selamat, kamu berhasil menikmati perjalanan hidup hingga saat ini. Buat yang masih merasa hampa, kosong, sepertinya kamu harus menganalisis diri sendiri, jangan-jangan di masa yang lalu kamu pernah mengalami salah jalan? Tapi buat yang sudah merasa menikmati hidup, berhasil ‘mengisi’ hidup sehingga tidak kosong, jangan bangga dulu karena masih banyak jalan hidup di depan yang harus ditapaki.

Ada sebuah kisah, seorang anak laki-laki bernama Ali, anak yang mandiri, yang semasa kecilnya punya mimpi-mimpi yang luar biasa. Mimpi-mimpi itu dia simpan selama hidupnya hingga beranjak besar, sampai remaja, dan dewasa seperti sekarang. Meskipun orang tuanya sempat mendiktator tentang ini dan itu pada Ali semasa kuliahnya, Ali tetap nekat. Kalaupun dia menurut, pada akhirnya dia berhasil ‘kabur’ dari dunia yang dia merasa tidak nyaman. Pada saat Ali dewasa, Ali berhasil membahagiakan orang tuanya dengan menjadi pribadi yang sukses, yang berhasil menggapai mimpi-mimpi masa kecilnya. Orang tuanya pun sangat gembira. Lain cerita, Bembi, adalah seorang laki-laki yang pendiam, tidak punya banyak cita-cita dan selalu mengalah di lingkungan permainan bocah seusianya. Orang tua Bembi yang apatis terhadap pendidikan dan pengembangan bakat anak tidak terlalu peduli anaknya kelak mau jadi apa. Bembi selalu mengikuti apa yang teman-temannya lakukan, seperti sekolah di mana dan memilih jurusan apa. Dia seperti tidak memiliki jati diri pada akhirnya. Masalahnya, tidak semua orang punya mimpi. Tidak semua orang punya visi-misi dan prinsip yang kuat dalam menapaki kehidupan. Bembi, yang pada akhirnya menyadari bahwa bidang yang dia tekuni sekarang tidak bisa membuat dia nyaman dan tidak sesuai dengan passion-nya, mulai mencari cara untuk menekuni bidang yang cocok dengan minatnya. Hal seperti ini pasti pernah terjadi pada kita. Kalau umur kita masih panjang, patut disyukuri karena masih banyak waktu untuk berkarya dan menciptakan goresan-goresan tinta emas di atas kertas kehidupannya yang tadinya kosong. Tapi kalau semuanya sudah terlambat dan sepanjang waktu ini sudah kita habiskan untuk sesuatu hal yang tidak membuat kita tidak merasa ‘hidup’, betapa sia-sianya. Lalu apakah ini adil untuk kita? Sedari awal harus kita sadari kita ini hidup untuk apa? Hidup untuk siapa? Hidup dengan bagaimana? Kita mau jadi seperti apa? Bagi yang sudah terlanjur tidak mempunyai mimpi yang hebat padahal usia sudah seperempat abad, bermimpilah! Dream on, and discover! Bermimpilah tentang dirimu sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun mendatang. Dan temukan jalan menuju ke sana. Karena semua mimpi itu punya jalan sendiri. Kembali ke pembahasan awal, bagaimana menentukan apakah jalan itu benar atau salah?

Ibarat sedang berjalan, di depan tampak sebuah gunung yang menjulang tinggi. Kita ingin sekali menuju puncak gunung tersebut. Kita cari saja jalan yang bisa menuju ke arah puncak. Seperti Gunung Lawu, misalnya, ada dua jalur pendakian yaitu Cemoro Kandang atau Cemoro Sewu. Dua jalan itu berbeda medan dan tantangan, tetapi keduanya mengarah ke tujuan yang sama. Cara mndakinya pun bisa menggunakan motor trail sampai ke pos tertentu, atau bisa juga berjalan kaki dari pos pertama. Kita juga bisa, kok, melakukan hal-hal lain selama proses pendakian itu, misalnya mendirikan tenda, bermalam, memasak, berburu, main petak umpet, dan lain-lain. Gunung yang akan kita daki, itulah mimpi kita. Mimpi itu terlihat nyata. Dapat diraih.

Saya ingat sebuah film yang sempat tayang di bioskop beberapa bulan lalu, judulnya “5 cm”. Film ini bercerita tentang tekat yang kuat untuk meraih sebuah mimpi. Dalam film itu, pernyataan yang paling terkenal adalah “Taruh mimpimu di sini, 5 centimeter dari kepala kita”. Jujur saya sangat tidak sependapat. Kenapa 5 centimeter? Saya pernah melakukan eksperimen dengan menaruh suatu benda dengan jarak 5 cm dari kepala seperti yang dilakukan Ian, Zafran, dkk di film itu. Ternyata benda tersebut terlihat kabur, tidak fokus. Apa mimpi itu memang sengaja dibuat kabur? Lalu saya menemukan bahwa jarak yang tepat untuk menaruh mimpi itu minimal 25 cm supaya mata kita bisa fokus, bukannya 5 cm. Jadi, Semoga ilustrasi tentang gunung yang disampaikan di atas cukup menggambarkan tentang mimpi dan perjalanannya.

Satu hal yang tidak boleh kita lupa adalah peran keyakinan. Keyakinan di sini memiliki arti luas: keyakinan pada diri sendiri dan keyakinan pada Tuhan. Orang yang tidak yakin bahwa dia tidak bisa menuju puncak gunung, akan berhenti di tengah-tengah. Seperti pengalaman saya pribadi, selama beberapa tahun lalu, tidak pernah sekalipun saya berani memotong benang dan melepas label merk/price tag baju baru tanpa menggunakan gunting. Sekali mencoba, gagal. Dua kali, tangan saya yang terluka. Setelah itu saya tidak pernah mencobanya lagi karena takut. Suatu saat, ketika hendak kuliah, tanpa sengaja rok yang saya kenakan sobek karena tersangkut footstep sepeda motor lain ketika saya sedang mengendarai sepeda motor di jalan. Dengan terbatasnya waktu untuk kembali ke kos-kosan dan mengganti rok, maka saya memutuskan untuk membeli rok baru di swalayan paling dekat. Timbul masalah ketika saya tidak bisa melepas label harga di rok tersebut karena tidak membawa gunting. Dalam keadaan darurat, saya berpikir bahwa saya harus bisa. Dengan membaca basmalah, saya tarik pengait label yang terbuat dari plastik keras dan tebal itu, dan ternyata…semudah itu! Terkadang kondisi darurat memaksa kita untuk yakin bahwa kita memang bisa. Keyakinan inilah yang sejatinya memberikan kekuatan supaya kita mampu melakukan apa yang kita ingin lakukan. Jadi, selain punya mimpi, kita harus yakin bahwa kita bisa mencapai mimpi itu. Kalau tidak yakin, mimpi saja terus! Hehe.😀

Orang hidup itu harus punya mimpi. Kalau tidak punya mimpi, tidak hidup. Akan jadi pertanyaan jika suatu saat saya bergumam pada teman saya: “Mungkin gak ya saya jadi istri keduanya Christian Sugiono?” dan teman saya menimpali “Mimpi lo!” kemudian saya mengatakan bahwa kalau tidak bermimpi, saya tidak hidup. Jelas jadi pertanyaan apakah itu akan menjadi kenyataan atau tidak. Masalahnya, saya tidak yakin….. :p

(SNT)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 16, 2013 by in Just Saying.
%d bloggers like this: